Election Day

Hari minggu ini warga Jawa Tengah sedang merayakan pesta demokrasi (terdengar seperti pelajaran PMP ya….ehh…..PPKn maksudnya…. 😀 ) a.k.a pemilihan gubernur 🙂

Sekitar pukul 9 pagi kami berangkat menuju TPS (yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah), saya, Alin, Eyangkung dan Eyangti. Tiba di TPS ternyata masih sepi lho…., jadi tidak menunggu antrian terlalu panjang, kami bisa melakukan “coblosan”.

Si anak kecil mah excited banget lihat saya dan eyang nya dapat kertas lalu “ngumpet” di bilik 😀 Dia ikutan saya ke bilik dan mulai lah wawancara penasarannya dia ke saya 😀 Dari yang nanyain mau ngapain ke bilik, nanyain itu (lihat foto-foto calgub) namanya siapa saja, nanyain kok ada paku di meja bilik… endebra endebre lah….. 😀 😀 Tapi syukurlah…..dia tidak spontan seperti biasanya untuk menyerukan nomor berapa yang saya coblos ha..ha…ha… 😀

Setelah nyoblos kan kita harus nyelupin jari ke cup tinta. Kembali excited nih si anak kecil sampai akhirnya dia ikutan nyelupin kelingkingnya di tinta….. Yay! Alin is officially (fake) voting 😀

pilgub jateng 2013Pilih yang mana yaaa? 🙂

di depan TPS

officially :)

He’ll never give up on you…ever — Toy Story 3 quote

Gara-gara komentarnya Bebe di postingan ini tentang Toy Story 3 yang sad ending, beberapa minggu lalu saya pun baru benar-benar menyimak film itu. Iyah, ternyata memang sad ending karena akhirnya Andy harus berpisah dengan Woody dan mainannya yang lain. Satu quote yang “touchy” buat saya adalah ucapan Andy ketika akan memberikan Woody ke Bonnie di akhir cerita

Now Woody, he’s been my pal for as long as I can remember. He’s brave, like a cowboy should be. And kind, and smart. But the thing that makes Woody special, is he’ll never give up on you… ever. He’ll be there for you, no matter what

Melted banget ngga sih? Karena saya hafal cerita Toy Story 1 dan 2 (gara-gara keseringan ditonton Alin juga sih 🙂 ), jadi bisa ikutan mbrambang melihat scene akhir Toy Story 3 (Alin sih biasa aja ekspresinya, mungkin karena belum ngeh dengan kata-katanya Andy 🙂 )

Ini cuplikannya…..

Her first entrepreneurship project

IMG-20130516-04288

Begitulah gaya si anak kecil presentasi 🙂

Salah satu program tahunan di Bukit Aksara adalah project entrepreneurship dimana anak-anak diminta untuk mengeluarkan ide dan mengeksekusinya menjadi suatu benda yang kemudian mereka presentasikan di depan orang tua untuk kemudian dijual atau dilelang. Nah, tahun ini, tema project entrepreneurship play group adalah Me and My Favorite Place. Anak-anak diminta untuk berkreasi membuat tempat kesukaan mereka ketika liburan. Project ini dimulai sekitar akhir februari atau awal maret lalu. Saat itu, anak-anak diminta untuk membawa karton atau kaleng susu bekas yang akan digunakan sebagai bahan project mereka.

Lalu apakah yang dibuat Alin? Alin membuat hotel! Dia sudah menyampaikan hal ini ketika awal memulai project itu di sekolah. Hanya sesekali saja dia bercerita tentang project hotel-nya. “konsultasi” satu-satunya yang pernah dia lakukan ke saya ketika dia bertanya apa yang kita pakai kalau mau naik ke kamar yang paling atas, dan saya memberi alternatif antara tangga, eskalator atau lift. Dan dia memilih lift 🙂

Nah, hari kamis, 16 Mei lalu, kami para orang tua play group diundang ke sekolah karena pada hari itu, anak-anak kami akan melakukan presentasi mengenai hasil project mereka. Kami semua tentunya excited mendapat undangan tersebut. Belum pernah terbayang oleh kami bagaimana anak-anak kecil ini akan maju ke panggung dan melakukan presentasi. Lucu saja kesannya 🙂 Saya pribadi pun penasaran bagaimana Alin akan presentasi secara dia bukan tipe anak yang mudah casciscus dengan orang baru, lha ini malah diminta presentasi di depan banyak orang 🙂

Saya menyempatkan cuti pada hari itu. Semalam sebelumnya, Alin “nge-brief” saya kalau besok pagi, Alin akan ngomong pakai halo-halo (a.k.a mic 😀 ) bersama miss-nya. Bunda diminta untuk mendengarkan saja. 😀 Sistem presentasinya adalah anak tampil ke panggung kemudian memberi salam ke teman-teman dan orang tua yang hadir. Mereka kemudian menjelaskan hasil projectnya. Tetapi jangan dibayangkan seperti layaknya orang dewasa presentasi yah. Miss Ratih, Miss Iin dan Mr. Rion yang bergantian bertugas sebagai MC beberapa kali memberikan pertanyaan pancingan ke anak yang tampil. Nah, si anak akan menjawab dengan menjelaskan. Ada anak-anak yang menjelaskan panjang lebar, ada yang menjelaskan dengan singkat dan ada juga yang terdiam tidak bisa menjawab 🙂

Alin tampil presentasi urutan ke-6. Dia naik ke panggung, berdiri di depan mic, hasil projectnya berada di meja di atas panggung, ditemani Miss Ratih yang menjadi MC. Setelah menyapa teman-teman dan Oom Tante, Alin mulai menjawab dan menjelaskan projectnya. Paparannya singkat tidak terlalu panjang. Ketika sesi pertanyaan dibuka, mama Anggie (mamanya Queena) bertanya kenapa Alin suka dengan hotel. Dan si anak kecil pun dengan polosnya menjawab, karena di hotel ada AC nya, ada kulkas dan kolam renang hahaha….. 😀 Ya jelas lah, secara rumah masih di kawasan yang dingin jadi kami memang tidak memakai AC di rumah. Alin tidur menggunakan AC memang hanya ketika liburan menginap di hotel 🙂 Nah, ketika Mr. Rio menawarkan apakah Alin akan menjual hotelnya ke Oom Tante selain Mama Papa, Alin pun membolehkan. Saya agak lupa, dia membuka di harga limapuluh ribu atau lima ratus ribu, yang kemudian ditawar Mama Anggie menjadi dua puluh ribu. Ketika saya tawar dua puluh lima ribu, Alin kekeuh memilih menjual dengan harga dua puluh ribu. Melayanglah hotel Alin ke Mama Anggie 😀 Sementara itu, Queena juga memperbolehkan project Mall Paragonnya dibeli Oom Tante dan saya pun membelinya (setelah tektokan dengan Mama Puput yang juga mau nawar tapi kena pelototan Seisa, anaknyah 😀 ). Dari semua project anak-anak play group, hanya milik Queena dan Alin saja yang tidak kembali kepada pemiliknya masing-masing 😀

Berhubung belum sempat lihat jelas projectnya Alin, saya pun dikirimi foto hotelnya Alin. Seperti ini nih…

hotel alin 1

hotel alin 2

Saya salut dengan kegiatan ini karena membuat anak-anak berimajinasi dan berkreasi sesuka mereka. Tapi memang peran gurunya masih sangat besar di project ini. Rasanya sebagian besar proses gunting menggunting dan menempel lebih banyak dikerjakan oleh sang guru secara untuk usia PG kan memang belum begitu maksimal kemampuan motorik halusnya 🙂 Setidaknya anak-anak mulai berlatih bagaimana merencanakan sesuatu, melakukan proses dan eksekusi di presentasi akhirnya.

Good job Alin dan teman-temannya!

Saya tidak sabar menunggu project apa yang akan dia buat tahun depan ketika duduk di TK A 🙂 🙂

Trip to Belitung Islands – 2

Day 2 – 10/05/13

Hari ini acara kami adalah……keliling-keliling pulau!!

Yup, kami akan seharian mengelilingi pulau dengan menggunakan kapal yacht sederhana 😀

Perjalanan diawali dari naik kapal di Tanjung Kelayang. Semua orang bergembira karena pagi ini cuaca sangat cerah dan berharap tetap terang sampai perjalanan kembali.

Sebetulnya jarak antar pulau di Belitung tidak terlalu jauh (paling jauh sekitar 15 menit) sehingga kami bisa melihat gugusan pulau-pulau itu ketika sedang menjelajahi laut. Salah satunya adalah Batu Garuda. Samudra Pasific tenang hari ini. Langit pun terang dengan awan biru dan putih yang indah 🙂

DSC_0163

Kurang lebih 10 menit berjalan dari Tanjung Kelayang, sampailah kami di Pulau Pasir. Pulau ini tidak berpenghuni dan hanya berisi hamparan pasir putih. Biasanya pulau Pasir akan bisa dikunjungi bila air laut surut. Kebetulan sekali, hari ini pulau Pasir tampak dan kami bisa bermain disana. Bermain apa? Foto-foto (pastinya! 😀 ) dan hunting bintang laut! Iyah, di sini banyak sekali Patrick dan teman-temannya. Bintang lautnya serupa, berwarna nuansa merah muda. Bagus sekali 🙂

Pulau Pasir

Star fish at Pulau Pasir

Puas potoh-potoh di Pulau Pasir, perjalanan berlanjut ke Pulau Lengkuas. Nah, pulau Lengkuas ini yang terkenal dengan mercu suar nya. Pulau Lengkuas adalah pulau terluar di bagian utara Belitung. Batu-batuan besarnya banyak dan tersebar. Tiba disana, mulailah kami naik turun gunung batu mencari photo spot yang apik. Hanya saja disini kami harus tetap memakai alas kaki ketika masuk ke air karena karangnya tajam-tajam. Beberapa batunya juga kasar karena banyak kerang-kerang yang sudah mati yang menempel di bebatuan itu. Pulau Lengkuas seringkali digunakan sebagai lokasi pemotretan pre-wedding.

pulau Lengkuas

pulau lengkuas

Kami makan siang di pulau Lengkuas. Hari ini ramai sekali, beberapa rombongan tour berbarengan dengan jadwal kami rupanya. Ada group yang mengadakan team building, ada juga pasangan yang melakukan pemotretan pre-wedding serta beberapa group lainnya. Betul-betul ramai siang ini di pulau Lengkuas. Setelah makan siang, sebetulnya kami ditawari untuk naik ke mercu suar yang tingginya sekitar 60 meter itu untuk mendapatkan view maksimal laut Samudra Pasific dan pulau-pulau di sekitar pulau Lengkuas, tetapi kami sepakat menolak karena membayangkan harus menaiki ratusan anak tangga! Dan kesininya, saya rada menyesal juga kenapa ngga dilakoni itu naik ke mercu suar (setelah melihat beberapa hasil foto yang diambil dari atas mercu suar) 😦

mercu suar pulau lengkuas

mercu suar 60 meter

Sekitar jam 1 siang kami pun kembali berlayar menuju lokasi snorkeling yang tidak jauh dari pulau Lengkuas. Awalnya saya membayangkan bahwa lokasi snorkeling itu ya di pinggir-pinggir pulau (dimana kita masih bisa nginjak pasir deh), ternyata lokasinya di tengah laut (dimana itu pasti dalem!! ). Saya kembali maju mundur maju mundur buat snorkeling. Kenapa? 1) Saya tidak bisa berenang! 2) Saya belum pernah snorkeling! 3) Lautnya pasti dalem! Tetapi setelah diajari dan diyakinkan oleh Agung dan mas Vicky bagaimana bernafas dan bahwa kami akan tetap safe karena menggunakan life vest, saya dan mbak Dian pun memberanikan diri buat nyemplung. Bagaimana dengan Robert? Dia juga ngga bisa berenang, tapi dia sudah pernah snorkeling, jadi ya bisa nyemplung sendiri.

Ketika saya nyemplung pun, saya tetap berpegangan ke Agung (karena hanya dia yang saya kenal dan tahu pasti bisa berenang dengan baik! 😀 ) Sementara mbak Dian di assist mas Vicky. Sementara Robert sudah sliweran sana sini sambil sesekali nanya ke saya, “Belum berani lepas sendiri? ” *Robert minta disenggol pakai bulu babi kayaknya deh* 😀 😀 Dan sodara-sodara, snorkeling itu ternyata asyik ya (selama kita tidak panik!). Saya bisa lihat karang-karang di bawah laut dan beberapa ikan kecil yang berdatangan (karena kita sebar-sebarin remah roti 🙂 ) Tapi katanya Agung dan Robert, ikan-ikannya masih lebih banyak dan lebih berwarna yang di Bunaken. Ngga papa sih, saya sudah happy bisa snorkeling untuk pertama kali. Yippie…. 🙂

snorkeling

Kami beranjak naik ke kapal setelah langit mulai gelap dan gerimis datang. Hiyaah…..hujan deras pun tiba. Sempat menunggu di kapal sekitar setengah jam karena pulau-pulau terdekat tidak tampak. Setelah itu kapal pun berjalan setelah bapak perahu bisa melihat pulau. Kapal berjalan masih dalam kondisi hujan menuju pulau Burung. Nah di pulau Burung ini terdapat beberapa cottage yang disewakan. Pulau ini pulau yang (katanya) digunakan sebagai lokasi syuting film The Philospher yang dimainkan Cinta Laura. Kami hanya berteduh di salah satu pondok dan tidak bisa berfoto-foto ria secara hujan masih deras 😦

Perjalanan berlanjut menuju Pulau Babi. Pulau ini tidak berpenghuni. Berpasir putih dengan bebatuan besar dan terdapat beberapa pohon disana. Sementara yang lain asyik berenang, saya sibuk mencari kerang-kerang lucu yang tersebar di tepian pantainya. Disini juga tidak ada photo session karena masih gerimis kecil (sayang kamera dan sayang hape kalau dipakai hujan-hujanan 😀 )

Sekitar pukul 16.00, kami tiba di pulau terakhir yang kami kunjungi. Pulau Batu Berlayar. Kenapa namanya Batu Berlayar? Karena di pulau ini terdapat batu-batu besar yang bentuknya seperti layar, makanya diberi nama Batu Berlayar. Kita bisa snorkeling disini, tetapi hati-hati, di beberapa tempat terdapat bulu babi. Berhubung ini adalah pulau terakhir dari rangkaian island hopping hari ini dan cuaca yang mulai cerah, session potoh-potoh pun dimulai 😀

Dalam perjalanan pulang menuju Tanjung Kelayang, kelapa muda fresh pun disajikan untuk kami. Complete! 😀

Dalam keadaan masih basah (tetapi sudah tidak kuyup), kami langsung menuju Mie Belitung Atep. Makanan khas Belitung yang wajib dicoba. Mie Belitung ini mirip-mirip mie Ongklok-nya Wonosobo. Kuahnya agak kental. Isinya ada mie, kentang, tahu, udang dan emping. Endeus sodara-sodara….secara dimakannya juga dalam kondisi lapar teramat sangat sih ya 😀

mie belitung

===================================================

Day 3 – 11/05/13

Pagi ini terasa lebih terik dari sebelumnya. Setelah sarapan seadanya di penginapan, kami pun berburu Suto Belitong, dan terdamparlah kami di Warkop Mak Janah. Suto Belitong mirip-mirip lontong kari dengan tambahan bihun, daging sapi dan emping. Rasanya cucok juga di lidah 🙂

Kenyang dengan suto, kami menuju ke Rumah Adat. Rumah asli Belitung adalah rumah panggung. Di rumah adat ini isinya cukup lengkap. Dari meja kursi tamu, perkakas-perkakas dapur, perkakas kerja, ranjang pengantin dan pernik khataman Quran. Lagu daerah pun diperdengarkan bagi pengunjung rumah adat.

rumah adat

Pendaratan berikutnya adalah Danau Kaolin. Danau Kaolin dulunya adalah tambang kaolin (sejenis tanah liat) yang sempat menjadi mata pencaharian utama masyarakat Belitung. Tambang itu kemudian menyisakan lubang-lubang besar berisi air yang menyerupai danau. Konon katanya, ketika cuaca terang (baca:terik), maka air danau akan berwarna biru tosca. Paduan warna air dengan batuan putih dan pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya akan memunculkan pemandangan indah yang sering kali diincar oleh para fotografer. Sayang sekali, saat kami kesana, langitnya lagi mendung. Namun, walau viewnya ngga maksimal, danau ini tetap tampak unik 🙂

danau kaolin

Berteduh sebentar di kantor Belitung Island, kami pun melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pendam. Main air lagi? Nggaaaa….. Kami hanya nangkring di salah satu booth makanan yang menjual empek-empek. Iya, sebetulnya kami ingin mencicipi empek-empek mama Rio yang khas Belitung, tetapi mama Rio baru buka berjualan di sore hari 😦

Pukul 12.00 kami diantar ke penginapan untuk beristirahat sebentar sebelum check out pukul 13.00. Capcus langsung menuju bandara yang ternyata masih tutup pada jam itu. Iyah, ternyata bandara hanya buka menjelang waktu-waktu jam terbang maskapai. Karena pesawat kami dijadwalkan boarding puku 15.30, jadilah bandara baru buka menjelang pukul 15.00 🙂

Secara keseluruhan, kami semua senang dan menikmati petualangan kali ini. Perjalanan kali ini semakin membukakan mata saya bahwa Indonesia memang benar-benar indah. Ketika infrastruktur bisa dikelola dengan baik sehingga terjangkau (bak fasilitas, waktu, biaya dan sebagainya), menjelajahi Indonesia akan terasa lebih menantang 🙂

bye belitung