Bertemu Dokter Gigi – FWA#5

Saya paling sebal kalau harus berurusan dengan dokter gigi!!!

Buat saya Dokter Gigi itu nightmare banget. Ini berlangsung dari sejak saya masih kecil. Yup, dari sejak saya kecil, saya dan adik-adik saya punya jadwal tetap berkunjung ke dokter gigi yang juga teman sejawatnya Ibu. Saya masih ingat, dokter gigi saya waktu kecil itu namanya Tante Maria. Saking terjadwalnya, gigi susu saya dulu tidak ada yang tanggal dengan otomatis. Ketika gigi susu mulai bergoyang, maka itulah saat mengunjungi Tante Maria untuk…..dicabut giginya….๐Ÿ˜ฆ๐Ÿ˜ฆ

Pas masa saya kecil, untuk bius cabut gigi tidak menggunakan media suntik, tetapi pakai kapas yang terasa nyesss saat disentuhkan ke gusi dan gigi…..tapi tetap saja, pas dicabut, kerasa bo’… hiks….๐Ÿ˜ฆ Rasa traumatis itu pun terbawa sampai saya dewasa, bahkan zaman saya kuliah dulu, pernah di satu waktu, saya pingsan pas lagi “digarap” dokter gigi buat menambal gigi yang lobang. Parah banget memang ketakutan saya sama dokter gigi *sigh*

Nah, masalahnya sekarang, gigi geraham Alin mulai karies a.k.a berlubang. Sepertinya gigi yang berlubang ini semakin memperparah pola makannya. Alin jadi tambah lama durasi makannya karena sering diemut. Makanya kemudian saya berpikir untuk membawa dia ke dokter gigi. Saya pun mulai hunting dokter gigi yang kiranya terbiasa menghadapi pasien anak-anak dan bisa memberikan impresi yang baik ke Alin. Pilihan pun jatuh ke Klinik Gigi Nadira yang menyediakan baik dokter gigi biasa maupun dokter gigi spesialis anak.

Setelah menunda-nunda untuk pergi ke dokter gigi (dikarenakan kekhawatiran ngga penting saya kalau-kalau Alin akan mengalami “trauma” seperti saya dulu kecil), akhir maret kemarin, kunjungan perdana pun dilakukan. Dokternya mulai praktek jam 18.30, jadi saya pun lepas jam kerja langsung menuju ke klinik dan bertemu Alin disana. Kesan pertama klinik Nadira adalah rapi dan ramah pelayanannya. Di ruang tunggu juga tersedia puzzle floor dan mainan perosotan sehingga anak-anak yang menunggu pun bisa beraktivitas sambil menunggu giliran diperiksa. Si anak kecil yang satu ini senang sekali sewaktu lihat mini playground itu. Dia lebih tertarik dengan puzzle floornya daripada perosotan :Dย  Setelah menunggu 3 pasien diperiksa, kami pun mendapat giliran masuk. Si anak kecil mah anteng aja, sayanya yang malah deg-degan mau ketemu dokter gigi, bahkan setelah bersalaman dengan bu dokter, saya pun langsung wanti-wanti, “Dok, it’s her first time meet the dentist. I hope we can make a nice first impression for her” he…he…he….๐Ÿ˜€

Syukurlah Dokter Dyah memang ramah dan mengerti anak-anak. Jadi pada kunjungan pertama kemarin, acaranya adalah menghitung jumlah gigi๐Ÿ˜€ Jumlahnya ada 20๐Ÿ˜€ Oh iya, pada saat Alin diminta duduk di kursi periksa, dia memang tampak ragu karena itu hal yang baru. Saya pun membimbingnya untuk duduk di kursi periksa dan menemani di sampingnya. Selesai menghitung gigi, Dokter Dyah memberikan bendera gigi yang berisi tabel token ke Alin. Beliau menjelaskan kepada Alin bahwa Bunda yang akan menjadi dokter gigi ketika di rumah dan akan memberikan bintang (token) di kolom bendera apabila Alin menggosok gigi dengan benar dan bersih. Nah, sebagai anak yang suka banget dengan token-token an, Alin jadi bersemangat untuk mengumpulkan bintang untuk nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah sikat gigi pada kunjungan berikutnya.

Hampir 2 minggu kemudian, kami berkunjung untuk yang kedua kalinya. Alin pun excited untuk segera memberikan bendera gigi tersebut ke Dokter Dyah. Begitu dipanggil, dia pun setengah berlari masuk ke ruang periksa dan segera memberikan bendera gigi itu….dan si bu Dokter pun memuji Alin untuk bintang-bintang yang sudah dikumpulkannya. Ketika Alin diminta untuk duduk di kursi periksa, dia dengan sendirinya beranjak naik ke kursi itu. Saya masih duduk di kursi meja dokter. Dokter Dyah lalu memberikan Alin kacamata hitam untuk dipakai supaya Alin tidak silau kena lampu periksa. Alin pun langsung cengar cengir saja memakai kacamata itu๐Ÿ˜€ Nah, kali ini bu Dokter menyampaikan kalau akan menambal salah satu lobang di geraham terdepan. Beliau akan melihat bagaimana reaksi Alin apakah sudah cukup nyaman dengan intervensi yang diberikan. Beliau membahasakan “mewarnai gigi” sebagai pengganti “menambal gigi” ke Alin. Alin pun diberi pilihan, mau diwarnai putih atau pink. Si anak kecil memilih putih๐Ÿ™‚ Proses penambalan tidak lama dan Alin cukup kooperatif. Selesai ditambal, Alin pun menerima reward sikat gigi warna orange nya๐Ÿ™‚

Yess! Dua kali kunjungan bisa saya nilai sakses gitu yah๐Ÿ™‚ Agenda berikutnya adalah “mewarnai gigi” yang lain yang lebih besar lobangnya. Kalau tidak ada halangan, Kamis ini akan dijadwalkan untuk kunjungan yang ketiga. Doakan berjalan lancar ya….๐Ÿ™‚

Notes : sebetulnya saya ingin sekali mengabadikan momen pertama ke dokter gigi dengan foto-foto. Tapi secara saya mesti lengket ke Alin pada kunjungan pertama, ya memang tidak bisa ambil foto apapun di ruang periksa deh๐Ÿ™‚ Kali kedua memang Alin sudah berani duduk sendiri, cumanya kan dia mau ditambal tuh dan saya belum tahu reaksinya, jadi daripada saya sibuk foto-foto (yang mana siapa tahu malah mengintimidasi si anak kecil), ya jadinya anteng aja kasih support dari meja si bu dokter he…he….he….๐Ÿ˜€ So, fotonya mah cuma satu ini, pas dia selesai diperiksa pertama kali dan dapat bendera gigi๐Ÿ˜€

the dentist

5 thoughts on “Bertemu Dokter Gigi – FWA#5

  1. Waaaahhh… ini klinik Nadira cabang yang mana? Sejak beberapa minggu lalu juga udah pengen ajak anak-anak cek ke dokter gigi di klinik ini, tapi malah keder mau ke cabang yang mana, soalnya ada beberapa deket rumah… kelamaan nentuin, akhirnya belom jadi-jadi ceknya sampe sekarang๐Ÿ˜€

    • Awalnya sebetulnya pengen ke yang di MT Haryono karena dekat kantor, tapi pas konfirmasi by phone, dokter gigi spesialis anak sedang umroh dan baru kembali di bulan April. Lalu sama mereka direfer ke Nadira Pusat yang di Tusam. Jadi deh kita di Tusam๐Ÿ™‚ Ayo, Raka sama Ranaka diantrikan disana tante๐Ÿ˜€

  2. wah alin pinter!๐Ÿ™‚
    gua juga lagi menunda2 ke dentist nih. cuma mau bersihin gigi sih.. cuma males gara2 dokternya suruh deep cleaning yang mana bayarnya mahal. gua gak mau, maunya general cleaning aja. huahaha.

    • Hehehe….terima kasih Oom Arman….๐Ÿ™‚
      Saya mah juga menunda-nunda buat scaling lebih karena takut!!๐Ÿ˜€
      Tapi mesti harus dijadwalkan sih, buat kasih contoh si kecil nih๐Ÿ™‚

  3. Pingback: WoW – #11 – 17/04/13 | Mitzh Learns to Write

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s