The Krucils – FWA#7

481173_589584391057498_544321430_n

387294_653944081288195_271859212_n

Biar saya namakan mereka The Krucils 🙂

Biarpun mereka jarang bertemu, tetapi ketika bertemu selalu guyub bermain bersama

Biar kata para emak ini ceriwis teriak sana sini mengingatkan mereka untuk berhati-hati, mereka tetap berlari sesuka hati

Biarkan mereka belajar apa arti “support” dari hal-hal kecil seperti bergandengan ketika berjalan, membantu mengangkat si adek kecil ketika akan bermain ayunan, membukakan pintu dan hal (yang kita anggap) remeh lainnya

Biarkan juga mereka bertengkar, berselisih paham, berbeda pendapat untuk akhirnya masing-masing belajar bagaimana memahami perbedaan, belajar memahami maksud orang lain, belajar memahami bahwa tidak selamanya orang lain akan sejalan dengan dirinya, belajar memahami bahwa konflik kadang-kadang diperlukan untuk memperkaya wawasan diri

Biarkan mereka memupuk kebersamaan, persahabatan, pengertian, empati, altruisme sejak saat ini sampai hari-hari, bulan dan tahun-tahun berikutnya 🙂

Advertisements

WoW – #12 – 24/04/13

Rabu ini bertemakan makanan 😀

d'costAkhirnya…..bisa juga icip-icip D’Cost nya Semarang setelah beberapa bulan dibuka. Telat banget ya? Ngga juga sih. Lebih karena kita malas aja kalau disuruh ngantri ngga ketulungan buat makan di suatu tempat baru 😀

booth's coffeeNekat minum yang enih malam-malam…..makanya masih bisa terang benderang jam segini buat posting di blog 😀 😀

I Won’t Give Up

Saya mendengarkan lagu ini pertama kali justru bukan dari penyanyi aslinya melainkan dari acara Voice of Indonesia-nya Indosiar. Lagu ini dibawakan pas battle nya Billy vs Andreas. Melihat performance mereka dan isi lagunya, keren euy ini lagu. Langsung deh bertanya ke mbah gugel, olala….ternyata ini lagunya Oom Jason Mraz tho…. 😀

Sukaaaaa…… 🙂 Musiknya oke dan yang pasti liriknya daleeeemmmm….. 🙂

Saya share disini ya 🙂

I Won’t Give Up — Jason Mraz

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?

Well, I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find

‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we did intend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I’ve got, and what I’m not, and who I am

WoW – #11 – 17/04/13

Wah! Sudah lama juga ngga update foto What’s on Wednesday 🙂

WoW minggu ini masih ngga jauh-jauh dari masalah per-dentist-an seperti yang pernah saya ceritakan kemarin. Nah, rencana awalnya, kunjungan ketiga akan dilakukan pada hari Kamis besok, etapinya, tadi siang saya dikabari dari klinik kalau hari ini Dokter Dyah praktek….so, mari kita capcus saja hari ini supaya bisa segera beres urusan per-dentist-an ini 😀

Daaaaan….akhirnya (setelah minta izin dulu sama bu Dokter) saya bisa ambil beberapa foto si anak kecil ketika sedang diwarnai giginya oleh dokter. Hari ini dia memilih untuk diwarnai pink. Jadilah itu salah satu gigi geraham kirinya berwarna pink 😀

Kunjungan ke-3

Bertemu Dokter Gigi – FWA#5

Saya paling sebal kalau harus berurusan dengan dokter gigi!!!

Buat saya Dokter Gigi itu nightmare banget. Ini berlangsung dari sejak saya masih kecil. Yup, dari sejak saya kecil, saya dan adik-adik saya punya jadwal tetap berkunjung ke dokter gigi yang juga teman sejawatnya Ibu. Saya masih ingat, dokter gigi saya waktu kecil itu namanya Tante Maria. Saking terjadwalnya, gigi susu saya dulu tidak ada yang tanggal dengan otomatis. Ketika gigi susu mulai bergoyang, maka itulah saat mengunjungi Tante Maria untuk…..dicabut giginya…. 😦 😦

Pas masa saya kecil, untuk bius cabut gigi tidak menggunakan media suntik, tetapi pakai kapas yang terasa nyesss saat disentuhkan ke gusi dan gigi…..tapi tetap saja, pas dicabut, kerasa bo’… hiks…. 😦 Rasa traumatis itu pun terbawa sampai saya dewasa, bahkan zaman saya kuliah dulu, pernah di satu waktu, saya pingsan pas lagi “digarap” dokter gigi buat menambal gigi yang lobang. Parah banget memang ketakutan saya sama dokter gigi *sigh*

Nah, masalahnya sekarang, gigi geraham Alin mulai karies a.k.a berlubang. Sepertinya gigi yang berlubang ini semakin memperparah pola makannya. Alin jadi tambah lama durasi makannya karena sering diemut. Makanya kemudian saya berpikir untuk membawa dia ke dokter gigi. Saya pun mulai hunting dokter gigi yang kiranya terbiasa menghadapi pasien anak-anak dan bisa memberikan impresi yang baik ke Alin. Pilihan pun jatuh ke Klinik Gigi Nadira yang menyediakan baik dokter gigi biasa maupun dokter gigi spesialis anak.

Setelah menunda-nunda untuk pergi ke dokter gigi (dikarenakan kekhawatiran ngga penting saya kalau-kalau Alin akan mengalami “trauma” seperti saya dulu kecil), akhir maret kemarin, kunjungan perdana pun dilakukan. Dokternya mulai praktek jam 18.30, jadi saya pun lepas jam kerja langsung menuju ke klinik dan bertemu Alin disana. Kesan pertama klinik Nadira adalah rapi dan ramah pelayanannya. Di ruang tunggu juga tersedia puzzle floor dan mainan perosotan sehingga anak-anak yang menunggu pun bisa beraktivitas sambil menunggu giliran diperiksa. Si anak kecil yang satu ini senang sekali sewaktu lihat mini playground itu. Dia lebih tertarik dengan puzzle floornya daripada perosotan 😀  Setelah menunggu 3 pasien diperiksa, kami pun mendapat giliran masuk. Si anak kecil mah anteng aja, sayanya yang malah deg-degan mau ketemu dokter gigi, bahkan setelah bersalaman dengan bu dokter, saya pun langsung wanti-wanti, “Dok, it’s her first time meet the dentist. I hope we can make a nice first impression for her” he…he…he…. 😀

Syukurlah Dokter Dyah memang ramah dan mengerti anak-anak. Jadi pada kunjungan pertama kemarin, acaranya adalah menghitung jumlah gigi 😀 Jumlahnya ada 20 😀 Oh iya, pada saat Alin diminta duduk di kursi periksa, dia memang tampak ragu karena itu hal yang baru. Saya pun membimbingnya untuk duduk di kursi periksa dan menemani di sampingnya. Selesai menghitung gigi, Dokter Dyah memberikan bendera gigi yang berisi tabel token ke Alin. Beliau menjelaskan kepada Alin bahwa Bunda yang akan menjadi dokter gigi ketika di rumah dan akan memberikan bintang (token) di kolom bendera apabila Alin menggosok gigi dengan benar dan bersih. Nah, sebagai anak yang suka banget dengan token-token an, Alin jadi bersemangat untuk mengumpulkan bintang untuk nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah sikat gigi pada kunjungan berikutnya.

Hampir 2 minggu kemudian, kami berkunjung untuk yang kedua kalinya. Alin pun excited untuk segera memberikan bendera gigi tersebut ke Dokter Dyah. Begitu dipanggil, dia pun setengah berlari masuk ke ruang periksa dan segera memberikan bendera gigi itu….dan si bu Dokter pun memuji Alin untuk bintang-bintang yang sudah dikumpulkannya. Ketika Alin diminta untuk duduk di kursi periksa, dia dengan sendirinya beranjak naik ke kursi itu. Saya masih duduk di kursi meja dokter. Dokter Dyah lalu memberikan Alin kacamata hitam untuk dipakai supaya Alin tidak silau kena lampu periksa. Alin pun langsung cengar cengir saja memakai kacamata itu 😀 Nah, kali ini bu Dokter menyampaikan kalau akan menambal salah satu lobang di geraham terdepan. Beliau akan melihat bagaimana reaksi Alin apakah sudah cukup nyaman dengan intervensi yang diberikan. Beliau membahasakan “mewarnai gigi” sebagai pengganti “menambal gigi” ke Alin. Alin pun diberi pilihan, mau diwarnai putih atau pink. Si anak kecil memilih putih 🙂 Proses penambalan tidak lama dan Alin cukup kooperatif. Selesai ditambal, Alin pun menerima reward sikat gigi warna orange nya 🙂

Yess! Dua kali kunjungan bisa saya nilai sakses gitu yah 🙂 Agenda berikutnya adalah “mewarnai gigi” yang lain yang lebih besar lobangnya. Kalau tidak ada halangan, Kamis ini akan dijadwalkan untuk kunjungan yang ketiga. Doakan berjalan lancar ya…. 🙂

Notes : sebetulnya saya ingin sekali mengabadikan momen pertama ke dokter gigi dengan foto-foto. Tapi secara saya mesti lengket ke Alin pada kunjungan pertama, ya memang tidak bisa ambil foto apapun di ruang periksa deh 🙂 Kali kedua memang Alin sudah berani duduk sendiri, cumanya kan dia mau ditambal tuh dan saya belum tahu reaksinya, jadi daripada saya sibuk foto-foto (yang mana siapa tahu malah mengintimidasi si anak kecil), ya jadinya anteng aja kasih support dari meja si bu dokter he…he….he…. 😀 So, fotonya mah cuma satu ini, pas dia selesai diperiksa pertama kali dan dapat bendera gigi 😀

the dentist