My Mother Always Used to Say

My mother always used to say

Saya tidak begitu ingat kapan tepatnya bukunya Anna Totcher ini dibeli. Kemungkinannya adalah setelah saya bekerja dan memiliki uang sendiri untuk meloloskan hobby belanja buku he..he..he..๐Ÿ™‚

Bukunya mungil dan tidak terlalu tebal. Saya tertarik dengan kutipan di sampul belakang yang menyatakan bahwa buku ini berisi kalimat-kalimat yang biasa dikatakan oleh seorang Ibu. Saya tergelitik buat membacanya karena ingin tahu berapa banyak kalimat-kalimat yang sama dengan yang biasa Ibu saya ucapkanโ€ฆ. *anak bandel*

Membaca buku ini tidak membutuhkan waktu berjam-jam karena memang isinya berupa cuplikan kalimat disertai beberapa ilustrasi/gambar. Kalimat-kalimat singkat yang ringan namun membuat saya berkali-kali tersenyum kecil karena teringat bahwa kalimat itu juga pernah saya dengar terucap oleh Ibu saya. Beberapa membuat saya bisa berkata, โ€œIbu ku banget iniiiiiiโ€ฆ..โ€ ha..ha..ha..๐Ÿ˜€

Kalimat-kalimat yang menurut saya โ€œIbu saya bangetโ€ diantaranya :

โ€œMasih ingat buat telepon ke rumah?โ€ โ€“ biasanya diucapkan kalau saya seminggu lebih tidak telepon ke rumah (saat saya kuliah dan bekerja di luar kota)๐Ÿ˜€

โ€œNah! Apa Ibu bilang!โ€ โ€“ biasanya diucapkan setelah saya mendapatkan kesulitan karena tidak mendengarkan saran ibu๐Ÿ™‚

โ€œKalau tidak mau menghabiskan, seharusnya tadi tidak usah ambilโ€ โ€“ biasanya diucapkan kalau saya tidak menghabiskan makanan saya๐Ÿ™‚

โ€œElok-elokโ€ โ€“ diucapkan ibu ketika mengakhiri pembicaraan telepon atau ketika saya pamitan mau bepergian๐Ÿ™‚

โ€œBajunya mau dibuat lap pel?โ€ โ€“ diucapkan ibu kalau adik saya meletakkan baju kotor sembarangan di lantai kamar๐Ÿ˜€

Nah, begitu ibu saya resmi menjadi eyang uti sekitar 4 tahun yang lalu, perbendaharaan kalimatnya bertambah. Tetap keras kepada saya tetapi lunak buat cucunya. Iyes, grandmaโ€™s syndrome he..he..he..๐Ÿ™‚

Dahulu ibu saya akan segera ngomel kalau saya atau adik saya tidak segera membereskan mainan. Tapi sekarang nih, misal Alin selesai bermain dan tidak membereskan mainannya. Ibu saya akan lebih permisif dan tidak menegur, bahkan di beberapa kesempatan, ibu saya yang akan membereskan mainan Alin. En yu nou wat, saya lah yang akan segera berkata kepada Alin, “Alin, mainannya apakah masih mau dimainkan lagi besok? Kalau iya, Alin bereskan sekarang. Kalau tidak, mainannya kita kasih ke orang lain saja ya” Iyeessss…..saya menjadi seperti ibu saya di zamannya dulu….๐Ÿ˜€

Di bagian Pendahuluan buku ini, ada satu paragraph yang saya setuju berat. Begini nih bunyinya : โ€œIbu adalah pembimbing kita di dalam segala sesuatu dan mengetahui semua hal, beliau menjadi inspirasi pertama kita, beliau mencintai kita dan berharap kita dapat bertumbuh serta membuatnya bangga. Ibu menetapkan peraturan dan ketika logika gagal untuk dijadikan alasan, beliau masih mempunyai satu kalimat pamungkas, Karena aku adalah ibumu; turuti saja! โ€œ๐Ÿ˜€

I love you, momโ€ฆ..๐Ÿ™‚

3 thoughts on “My Mother Always Used to Say

  1. Kunjungan perdana..

    Iya betul sekali, karena beliau seorang Ibu.. Jadi turuti aja.. Pas gede baru sadarm, semua yg dikatakan demi kebaikan anaknya.๐Ÿ˜€

    • Salam kenal Pypy,

      Iyah, dulu sih kerasanya bawel bener yah si emak….tapi sekarang ketika jadi emak beneran, ya memang mesti bawel bin ceriwis he..he..he..๐Ÿ˜€

      Terima kasih sudah berkunjung ya Py๐Ÿ™‚

  2. Kunjungan perdana..

    Iya betul sekali, karena beliau seorang Ibu.. Jadi turuti aja.. Pas gede baru sadarm, semua yg dikatakan demi kebaikan anaknya.๐Ÿ˜€

    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s