Woody Toy Story – FWA#4

woody_lAhaaaa…….ini dia idola barunya Alin. Film aslinya mah sudah lama kan ya, tapi berhubung Alin masih 4 tahun, ya dia baru kenalnya sekarang πŸ™‚ Setelah beberapa waktu yang lalu suka banget sama film Madagascar, sekarang saatnya Toy Story yang menyita perhatiannya πŸ™‚

Perkenalan dengan Toy Story bermula dari salah satu cerita (dari buku Dongeng untuk Liburan terbitannya BIP) yang sering saya bacakan saat menjelang tidur, berjudul Raja Rodeo. Tokoh utamanya, Pat, digambarkan sebagai seorang koboi yang baik hati dan penolong. Rupanya Alin jatuh cinta dengan tokoh tersebut πŸ™‚ Mengamati tokoh Pat, saya jadi teringat Woody di Toy Story. Jadilah saya beli DVD Toy Story 1 untuk Alin.

Bisa ditebak, Alin sukaaa sekali dengan film Toy Story itu. Saking senangnya, setiap hari bisa sampai 2 kali Toy Story muncul di layar TV πŸ˜€ Sekitar seminggu yang lalu, saya belikan DVD Toy Story 2. Walhasil, Alin tambah demam Toy Story. Dampaknya apa? Dia jadi kalap di Pesta Buku-nya Gramedia. Seminggu terakhir ini, Gramedia Semarang sedang mengadakan Pesta Buku a.k.a bazaar buku. Dari awal pembukaan Pesta Buku, terhitung sudah 2 kali kami ke Gramedia. Si anak kecil tetap kalap dengan buku Toy Story. Cumanya, buku yang dipilih bukan buku ceritanya, melainkan buku aktivitas Toy Story yang berisi mewarnai, menggambar, tempel-tempel sticker, permainan-permainan kecil yang dirangkum dalam satu buku. Kalau ngga ditahan-tahan, dalam sehari, Alin bisa menghabiskan 2 buku aktivitas itu. Saya pun perlu menyiapkan stock buku aktivitas, untungnyaaaa….ini lagi bazaar, diskonnya bisa sampai 40%. Harga buku aktivitas pun turun menjadi kisaran Rp. 6000 s.d 15.000an, muraaaah kaaaan…… πŸ˜€

Pesta Buku

Yes, long weekend ini, kami tidak liburan jauh. Cukup di rumah, berbekal DVD dan buku aktivitas Toy Story, kami menghabiskan liburan πŸ˜€ πŸ˜€

Selama 7 Tahun di Yogya

Selama 7 tahun di Yogya,

saya hanya 1 kali pindah kost. Iyes, dari awal mulai kuliah sampai akhirnya meninggalkan kota gudeg ini, saya hanya sekali pindah kost yaitu setelah saya menyelesaikan studi profesi saya. Sudah menjadi aturan tak tertulis di rumah kost pertama saya bahwa penghuni kost haruslah berstatus mahasiswa. Kalau sudah tidak mahasiswa atau sudah bekerja, silakan hengkang dan berikan kesempatan bagi adik-adik mahasiswa baru untuk kost disana hehehe…. πŸ˜€Β  So, setelah 4,5 tahun menempuh S1, saya sempat ditanya-tanya apa rencana berikutnya. Setelah saya sampaikan bahwa saya akan lanjut profesi, si ibu kost pun tidak meributkan extend nya saya di kost itu hihihihi…. 1,5 tahun selesai studi profesi, karpet merah pun digelar di depan kamar sebagai tanda kelulusan saya juga dari rumah kost *lebaaaaay* πŸ˜€ πŸ˜€Β  Saya pindah di kost kedua dan menempati sekitar 6 bulan sebelum akhirnya benar-benar hengkang dari Yogya πŸ™‚

Selama 7 tahun di Yogya,

saya belum pernah Β masuk ke Keraton Yogyakarta. Saya baru β€œwisata” ke Keraton justru ketika sudah bekerja bertepatan dengan acara outing team di Yogyakarta. Kenapa begitu? Setengahnya mengentengkan karena berpikir akan stay lama di Yogya, jadi saya berpikir ke Keraton mah kapan saja bisa. Baru menyesal setelah menjelang pergi dari Yogya dan tidak ada waktu untuk nengok-nengok isi Keraton

Selama 7 tahun di Yogya,

paling tidak satu kali makan dalam sehari adalah menunya si Emak. Emak adalah orang yang punya warung makan persis di sebelah kost saya. Menunya mah biasa dan itu-itu saja dari hari kehari. Apakah rasanya enak? Biasa saja sebetulnya. Mungkin karena saya orang rumahan enggan beli maem jauh-jauh, dari Emak ke Emak dah πŸ™‚ Tapi menu emak apa aja ada kok, 4 sehat (tanpa) 5 sempurna πŸ™‚

Selama 7 tahun di Yogya,

Gelanggang Mahasiswa adalah rumah pertama saya sebelum kost dan kampus. Hah! Mahasiswa macam apa ituh? Saya tidak bisa mengingkari kalau Gelanggang jadi rumah pertama saya karena saya bisa 12 jam lebih berada di Gelanggang. Sisanya ya di kost, kampus dan perjalanan wira wiri. Jam di perkuliahan efektif di kelas maksimal 6 jam. Itu masih di semester-semester awal yang padat lho…. Ke perpustakaan ngga sampai 1 jam, itu pun kalau ada tugas yang menuntut pencarian referensi di perpustakaan. Tugas kelompok atau mengerjakan tugas individu bisa dilakukan di kelas atau di Gelanggang juga :p Waktu-waktu senggang saya memang dibuat untuk beraktivitas di Unit Kegiatan Mahasiswa di Gelanggang Mahasiswa. Sampai di kost pun tinggal istirahat. Jadi ngga salah kalau saya harus akui, Gelanggang Mahasiswa adalah rumah pertama saya πŸ˜€

Selama 7 tahun di Yogya,

bus kota jalur 2, 3, 4, 5 dan 7 adalah sahabat sejati yang setia mengantarkan saya ke kampus, ke Gelanggang Mahasiswa, ke kawasan Malioboro untuk jalan-jalan, ke Gramedia buat ngendon seharian, ke terminal Jombor buat ngejar bus dan tempat-tempat lainnya. Saya adalah pengguna bus kota sejati kecuali kalau ada teman yang berbaik hati nyamperin sih. Dari awal yang sempat merasakan bayar ongkos bus Rp. 150 sampai terakhir ongkos bus Rp. 1000 apa 2000 gitu (kerasa bener itu dampak reformasi yah πŸ™‚ )

Selama 7 tahun di Yogya,

merasakan bagaimana asrinya kota. Saya sempat menjalani beberapa bulan walk to campus a.k.a jalan kaki dari kost ke kampus. Dari kost menyusuri kampus Biologi, kampus Geografi, menyeberang jalan Kaliurang, masuk kawasan Balairung, menyusuri kampus Ekonomi, kampus Sastra dan sampailah di kampus saya. Pepohonannya banyak dan rimbun πŸ™‚ Sempat merasakan lengangnya jalan, tidak begitu banyak sepeda motor apalagi mobil πŸ™‚ Merasakan keramaian bulan Ramadhan ketika sepanjang jalan Kaliurang menjadi lebih hidup baik ketika saat sahur maupun menjelang berbuka puasa. Para mahasiswa menjadi lebih kreatif dengan segala macam rupa panganan dan jajanan yang ditawarkan di pinggir-pinggir jalan πŸ™‚

Selama 7 tahun di Yogya,

saya belajar untuk hidup lebih mandiri, jauh dari orang tua. Belajar mengatur diri, mengatur tujuan, mengatur waktu, mengatur keuangan, mengatur tenaga, mengatur konsentrasi, mengatur prioritas, mengatur strategi, mengatur relasi sosial saya dan hal-hal lain. Menerima keberhasilan juga kegagalan. Merasakan kebahagiaan juga kesedihan. Bertambah wawasan, kemampuan dan pertemanan saya. Memupuk persahabatan-persahabatan baru yang akhirnya terasa dekat layaknya keluarga πŸ™‚

Sungguh 7 tahun yang berharga dan tidak akan tergantikan dengan apapun.

Dan saya berterima kasih untuk 7 tahun itu πŸ™‚

Notes : tulisan ini di posting atas dasar rasa kangen mendadak dengan kota Yogya. Untuk lebih mengobatinya, tidak ada yang bisa mewakili selain Yogyakarta-nya KLa Project πŸ™‚ πŸ™‚

My Mother Always Used to Say

My mother always used to say

Saya tidak begitu ingat kapan tepatnya bukunya Anna Totcher ini dibeli. Kemungkinannya adalah setelah saya bekerja dan memiliki uang sendiri untuk meloloskan hobby belanja buku he..he..he.. πŸ™‚

Bukunya mungil dan tidak terlalu tebal. Saya tertarik dengan kutipan di sampul belakang yang menyatakan bahwa buku ini berisi kalimat-kalimat yang biasa dikatakan oleh seorang Ibu. Saya tergelitik buat membacanya karena ingin tahu berapa banyak kalimat-kalimat yang sama dengan yang biasa Ibu saya ucapkan…. *anak bandel*

Membaca buku ini tidak membutuhkan waktu berjam-jam karena memang isinya berupa cuplikan kalimat disertai beberapa ilustrasi/gambar. Kalimat-kalimat singkat yang ringan namun membuat saya berkali-kali tersenyum kecil karena teringat bahwa kalimat itu juga pernah saya dengar terucap oleh Ibu saya. Beberapa membuat saya bisa berkata, β€œIbu ku banget iniiiiii…..” ha..ha..ha.. πŸ˜€

Kalimat-kalimat yang menurut saya β€œIbu saya banget” diantaranya :

β€œMasih ingat buat telepon ke rumah?” – biasanya diucapkan kalau saya seminggu lebih tidak telepon ke rumah (saat saya kuliah dan bekerja di luar kota) πŸ˜€

β€œNah! Apa Ibu bilang!” – biasanya diucapkan setelah saya mendapatkan kesulitan karena tidak mendengarkan saran ibu πŸ™‚

β€œKalau tidak mau menghabiskan, seharusnya tadi tidak usah ambil” – biasanya diucapkan kalau saya tidak menghabiskan makanan saya πŸ™‚

β€œElok-elok” – diucapkan ibu ketika mengakhiri pembicaraan telepon atau ketika saya pamitan mau bepergian πŸ™‚

β€œBajunya mau dibuat lap pel?” – diucapkan ibu kalau adik saya meletakkan baju kotor sembarangan di lantai kamar πŸ˜€

Nah, begitu ibu saya resmi menjadi eyang uti sekitar 4 tahun yang lalu, perbendaharaan kalimatnya bertambah. Tetap keras kepada saya tetapi lunak buat cucunya. Iyes, grandma’s syndrome he..he..he.. πŸ™‚

Dahulu ibu saya akan segera ngomel kalau saya atau adik saya tidak segera membereskan mainan. Tapi sekarang nih, misal Alin selesai bermain dan tidak membereskan mainannya. Ibu saya akan lebih permisif dan tidak menegur, bahkan di beberapa kesempatan, ibu saya yang akan membereskan mainan Alin. En yu nou wat, saya lah yang akan segera berkata kepada Alin, “Alin, mainannya apakah masih mau dimainkan lagi besok? Kalau iya, Alin bereskan sekarang. Kalau tidak, mainannya kita kasih ke orang lain saja ya” Iyeessss…..saya menjadi seperti ibu saya di zamannya dulu…. πŸ˜€

Di bagian Pendahuluan buku ini, ada satu paragraph yang saya setuju berat. Begini nih bunyinya : β€œIbu adalah pembimbing kita di dalam segala sesuatu dan mengetahui semua hal, beliau menjadi inspirasi pertama kita, beliau mencintai kita dan berharap kita dapat bertumbuh serta membuatnya bangga. Ibu menetapkan peraturan dan ketika logika gagal untuk dijadikan alasan, beliau masih mempunyai satu kalimat pamungkas, Karena aku adalah ibumu; turuti saja! β€œ πŸ˜€

I love you, mom….. πŸ™‚

90-an

Yay!! Postingan ke seratuuuussss…… *ngga penting banget sih ya* πŸ˜€

Di postingan yang maha penting ini *mulai sedikit berlebihan*, saya mau share video clip favorit saya di tahun 90-an.

Iyes, dengan bangga saya mengakui sebagai generasi yang ikut meramaikan tahun 90-an (my best decade ever πŸ˜€ )

Video-video klip favorit saya adalah …..

1. Rick Astley with Hopelessly.

2. Wilson Phillips with You won’t See Me Cry

3. Spice Girls with Wannabe

4. The Hanson with MmmBop

5. Sheryl Crow with All I Wanna Do

6. Jon Secada with Just Another Day

7. N Sync with Tearin’ Up My Heart

8. Oasis with Wonderwall

9. Sixpence None The Richer with There She Goes

10. Savage Garden with Truly Madly Deeply

Hehehehe……suka sekali sama lagu-lagu itu dan sebetulnya masih banyak lagi yang lainnya. Jadi teringat pas 90-an, kita lebih sering dengar lagu-lagu itu melalui radio. Sebagai anak 90-an, kaset kosong 90′ atau 120′ wajib standby di rumah, in case si radio muterin lagu bagus, kita tinggal pencet tombol record……kerekam deh lagu itu di kaset kita πŸ˜€ πŸ˜€

I really miss those old golden times…. πŸ™‚

WoW – #10 – 13/03/13

Pagi menjelang berangkat sekolah, si anak kecil menemukan anak burung yang terjatuh di taman kecil sebelah rumah. Karena khawatir akan mati kalau dikandangin sama kita, anak burung itu pun dilepaskan oleh si anak kecil di rumput-rumput halaman rumah.

Ungaran-20130313-03864

Sore hari yang tampak berawan paling enak dibawa buat ngupi dan jajanan. Namun tiba-tiba datang paket enih!!

Semarang Selatan-20130313-03868Iyess!! Batik korporat (yang terbaru) sudah sampai. Kalau 2 tahun sebelumnya menggunakan batik alleira, sekarang, korporat menggunakan batik yang dibuat oleh perajin batik dari kota Garut. Batik cap yang dibuat oleh perajin kota Garut ini didesain khusus untuk korporat kami. Kalau diamati dengan jelas, logo perusahaan pun tertera di motif batiknya πŸ™‚

Ensiklopedia Anak Hebat : Hewan

“Bunda, ini babi….hidungnya seperti ini nih….ngoook….” — emaknya pun tepok jidat πŸ˜€

niruin hidung babi

Hihihi…..Alin lagi hepi berat dengan buku barunya. Ceritanya, hari minggu kemarin, Oom Ipunk (adik saya) mau lihat-lihat pameran komputer di Java Mall. Sekalian deh saya dan Alin ikutan ke Java Mall. Tujuannya tentu saja Toko Buku Gramedia. Ngubek buku sana buku sini, akhirnya si anak kecil tertarik sama buku yang ini nih….

cover

Judulnya Ensiklopedia Anak Hebat edisi Hewan, merupakan terjemahan dari buku Animal Encyclopedia terbitan Kiwoom Publishing punyanya Korea. Disadur dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh PT. BIP. Buku ini mengulas 60 jenis hewan yang diklasifikasi menjadi 4 kelompok hewan (hewan darat, burung, hewan air dan serangga/hewan kecil). Alin senang sekali dengan buku ini.

Apa sih yang menarik dari ensiklopedia ini?

  • Bukunya banyak memuat ilustrasi dan foto. Ada foto asli hewannya dan ada karikatur dari sang hewan. Warna-warna yang digunakan cukup soft sehingga memang enak dilihat πŸ™‚
  • Setiap satu pembahasan jenis hewan, maka dimulai dari tebak-tebakan hewan apa yang akan diceritakan lebih lanjut. Setelah tertebak, di halaman berikutnya terpampang foto si hewan yang nyata (bukan karikatur lho ya πŸ™‚ ). Pada halaman ketiga, terdeskripsikan dengan singkat dan jelas mengenai hewan tadi. Lalu di halaman terakhir, diberi tebak-tebakan lagi (btw….berasa kayak pre dan post test kalau pas praktikum dulu πŸ˜€ )
  • Bahasa yang digunakan sangat sederhana sehingga mudah dipahami si anak. Selain itu, pendeskripsian nya pun sederhana
  • Hard cover, sehingga emak tidak perlu dagdigdug khawatir kalau-kalau si buku luka tersobek….. *mulai ng-alay*

page 1

Ungaran-20130311-03854

Ungaran-20130311-03855

Karena penasarannya, Alin langsung ingin membaca di tempat. Akhirnya si buku pun mulai dijelajahi Alin ketika kita sedang menunggu pesanan di tempat makan. Asyik bener dia sampai-sampai pakai acara ngarang cerita tentang si hewan, karena emak yang baik hati dan lapar ini menolak untuk membacakan saat itu πŸ˜€

busy :)

Facing the Giant

Sore tadi, selepas jam kerja, Region Head kami mengumpulkan seluruh karyawan untuk sharing dan motivasi. Beliau mereview dan mengapresiasi performance kami tahun lalu yang berhasil mencapai profit 130%….yippiee… πŸ˜€ πŸ˜€ Beliau pun mengingatkan kami untuk tidak lengah dengan target tahun ini yang berlipat kali lebih tinggi daripada tahun lalu.

Pada satu sesi, beliau menayangkan cuplikan video dari film Facing the Giant. Film Facing the Giant sebetulnya bukan film baru, tayang pertama sekitar 6 atau 7 tahun yang lalu, saat saya awal mulai bekerja. Film ini bercerita tentang perjuangan seorang pelatih football dan team football sekolah untuk bisa berprestasi lebih. Konflik-konflik yang dihadapi si pelatih tidak hanya tentang bagaimana mengatur team namun juga permasalahan pribadi dan “sikut-sikutan” dengan orang lain yang tidak menyukai si pelatih berada di team. Namun kegigihan sang pelatih pun membuahkan hasil.

Facing the Giant sendiri bisa diartikan bagaimana kita menghadapi ketakutan-ketakutan (Giants) kita ketika akan mencapai sesuatu. Kita perlu mengenali kemungkinan Giants yang bisa menghambat kita untuk berprestasi. Beberapa Giants yang biasanya muncul adalah rasa minder, malas, menawar (dalam artian terkadang kita suka menawar terhadap tantangan/target yang diberikan), rasa takut dan mudah menyerah. Ketidakyakinan kita terhadap potensi yang kita miliki membuat Giants-nya semakin besar. So, kita memang harus selalu yakin bahwa potensi kita sebagai manusia adalah besar. Selain itu, support dari lingkungan sekitar tentunya akan menambah keyakinan diri sehingga kita berani untuk menjawab tantangan.

— ampuuun….kenapa postingannya jadi seriyuss beginih ya….. —

— setengah peptalk juga sih πŸ˜€ —

Pas di scene ini nih, pas banget untuk menggambarkan “facing the giants” nya πŸ™‚

Thank you Bu Chyntia for sharing and reminding us πŸ™‚