Bermain Ular Tangga – FWA#3

Jangankan mengingat kapan pertama kali main ular tangga, kapan terakhir kali saya bermain ular tangga pun sudah lenyap dari ingatan 🙂

Supaya Alin tidak mengalami hal yang sama dengan saya (PELUPA), saya umumkan bahwa hari ini, 21 Februari 2013, adalah kali pertama Alin bermain ULAR TANGGA!!!! Yay!!! *suara terompet dan drum bersahutan* *emak nan lebay bin jayus abis ini maaah* 😀 😀

Iyah, tadi sore teman kantor ada yang berbaik hati memberikan satu set mainan monopoli yang dibaliknya ada permainan ular tangga. Awalnya saya sempat anggap, ah, paling juga nanti Alin lebih tertarik main uang-uangannya monopoli. Board-nya mah wassalam aja deh kayaknya.

Kebetulan Alin ikut menjemput saya pulang kerja. Di dalam mobil sepanjang perjalanan-pun dia sudah heiboh sangat ingin segera memainkan monopoli uang-uangan itu. Saya pun memintanya bersabar sampai dengan tiba di rumah.

Dan malam ini pun ia menagih janji untuk diajari cara bermain ular tangga. Kenapa dia jadi berubah ingin main ular tangga? Karena eh karena emaknya yang pintar ini berkata padanya bahwa untuk bisa main monopoli harus belajar dulu bermain ular tangga….. *krik…krik….krik….* Etapi bener kan ya, urutannya mah main ular tangga dulu, terus main halma dulu, baru setelah itu main monopoli kaaaan… 🙂

So, saya pun mulai memberitahukan cara bermain ular tangga. Mesti sabar ternyata ya bo’….secara Alin ini kebelet aja mau naik sampai angka 100. Jadi sering kali dia menghitung langkah pionnya ke atas, bukan ke kanan atau ke kiri…. *sigh* Di set pertama, saya dan Alin yang bermain. Yeah….ketemu tangga dan ketemu buntut ular pula, jadi kami berdua pun sering naik cepat dan terjun bebas gara-gara si uler. Sampai akhirnya, Alin berada di kotak 99 daaaaaan……dimulailah monopoli dadu oleh si anak kecil ini 🙂 Berulang kali dia mengocok dadu dan kemudian mengembalikan lagi ke kotak dadu untuk dikocok lagi tapi ngga nongol-nongol itu si angka 1 🙂 Apa yang terjadi kemudian? Dia tidak menggunakan kotak lagi untuk mengocok dadu namun menggunakan tangannya langsung…errr… tepatnya, kedua tangannya! Iyes, tangan kanan buat mengocok, tangan kiri buat mengatur supaya dadunya jatuh dengan angka satu di atas 😀 daaaaan…..keluar deh itu si angka 1 😀 😀 She won the first game!!! 🙂

Penasaran dengan permainan ular tangga ini, Alin pun menantang untuk set kedua dan ketiga. Hasilnya saya menang 1 kali dan di set ketiga, Alin sukses menang tanpa harus mengatur si dadu. Yay!!!

ular tangga

posisi genting :)

rekayasa dadu :)

finally :)

Rememberance NH Dini

Sejak saya kecil, bila ada orang bertanya kepada saya, “Apa hobby-mu?”

Saya akan otomatis menjawab, “Membaca”

Seperti yang pernah saya posting disini, saya memang sukaaaa sekali sama buku-buku. Diperhatikan baik-baik ya…..suka sama buku! Which is beda dengan suka membaca buku he..he..he.. *terus mulai menyalahkan waktu yang terasa kurang buat membaca* 😀

Nah, secara gentleman harus saya akui, hobby membaca buku, beneran terjadinya justru ketika di masa-masa SMP – SMA. Saat SMP dan SMA, saya adalah member perpustakaan di sekolah (haizzzz….semua murid ya pasti member perpustakaan sekolah kan ya :D) dan member perpustakaan kabupaten (iyes, kalau ini mah ngga semua orang bisa otomatis jadi member kaaaan…. *sedikit jumawa* 😀 ) Teyuuuus….buku-buku yang saya baca bukan komik-komik, tapi karya sastra. Dulu zaman ada film Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Salah Asuhan (aiiiiihhh…..ketahuan banget ya saya hidup di zaman apah 😀 ), saya pun membaca buku-buku itu (dan sampai sekarang saya adalah penganut prinsip bahwa buku lebih “bercerita” daripada film-nya 🙂 )

Salah satu penulis yang saya suka karyanya saat saya SMA adalah NH Dini. Saya mengenal karya NH Dini dari perpustakaan sekolah dan perpustakaan kabupaten. Beberapa bukunya yang sempat saya baca waktu itu adalah Pada Sebuah Kapal, Pertemuan Dua Hati, La Barka, Namaku Hiroko, Tirai Menurun, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami dan Sekayu. Kalau saya pikir-pikir sekarang, berat sekali bacaan saya waktu itu. Tapi entah kenapa, saya betah membaca karya NH Dini berjam-jam di rumah daripada membaca buku pelajaran (banyak kembarannya mah kalau begini 😀 ). Rata-rata bukunya NH Dini lebih dari 100 halaman, bercerita tentang masa penjajahan jepang dan lebih banyak menggambarkan tentang hal-hal yang terkait gender. Makin kesini, kalau lebih diperhatikan, buku-bukunya NH Dini sepertinya banyak terinspirasi dari pengalaman hidup pribadinya — dimana saya belum bisa menangkap keterkaitan hal-hal itu saat SMA. Saat itu yang saya tahu dan rasakan hanya, NH Dini penulis yang hebat, ceritanya daleeem banget 🙂

Dari sekian buku yang pernah saya baca itu, buku yang paling saya suka adalah Namaku Hiroko dan Pada Sebuah Kapal. Waaaah…..jadi pengen baca lagi buku-buku ituuuuuh….. *tergoda untuk hunting di onlenbuksop* *kayak masih sempat aja baca buku* 😀

Jadi penasaran juga sih, kira-kira zaman sekarang, anak-anak remaja (atau orang gedhe a.k.a dewasa) masih ada yang baca bukunya NH Dini ngga ya?

WoW – #7 – 13/02/13

Rabu ini riweuh sekali dengan persiapan acara kantor buat anak-anak thalassaemia, sehingga baru di sore harinya nyadar kalau belum ada satu foto pun yang saya ambil hari itu 😀 Secepat kilat pun jepret-jepret yang ada 😀

transaksiYep! Kebagian jadi yang ngurusin budget kegiatan ini. Rajin nagihin nota-nota ke masing-masing PIC bagian….nota mana….nota manaaa….. (sounds like debt collector??)

latihan ngemsiHihihi…..si Noba kejatuhan peran jadi emsi buat acara ituh…..sempat manyun sesaat sebelum ditagih bikin script dan try out di depan kita. Sore-sore digojlok dulu ini mah…..it’s really ur wednesday, Nob 😀

bingkisan

Nah, ini dia beberapa bingkisan yang siap untuk diserahkan buat acara hari Kamis-nya. Semoga semua bermanfaat buat adik-adik thalassaemia ya…. 🙂

Weekly Photo Challenge : Home

home

Ketika bermain rumah-rumahan, si anak kecil bercerita : “Rumah itu kamarnya harus banyak….kan banyak orang yang di rumah….kalau banyak orang tho, makannya sama-sama, nonton tivinya sama-sama, perginya juga sama-sama….rumahnya rame deh…”

(my daughter told me (when she was playing) : “a house is had to have a lot of rooms because there will be a lot of people who will live in there. Those people will had dinner or breakfast together, watch television and hang out together also. It will be a cheerful home”)

Kencan dan Trans Semarang – FWA#2

Weekend adalah waktu untuk bersama dengan Alin, si anak kecil. Entah menemani bermain, berenang atau belanja kebutuhan. Nah, biasanya kalau pergi-pergi begitu pasti ada barengannya, entah dengan ibu saya atau adik saya atau ayahnya Alin (kalau pas lagi mudik :D)

Weekend kali ini, saya merencanakan kencan berdua dengan Alin saja 🙂

Acara sabtu ini dimulai dengan Parent’s Tea di sekolahnya Alin. Saya dan Alin berangkat pukul 08.00 dari rumah menggunakan taxi. Sampai di sekolah, ngobrol lama sama Miss Iin, wali kelas (kelompok) Corn. Ada sejam-an lebih sih ngobrolnya secara awal semester ini memang terasa lebih ekstra bagi Alin, saya maupun Miss Iin (tentunya masih ingat dong cerita tantrumnya si anak kecil 🙂 ). Nyambi ngobrol, si anak kecil sekalian minum juice alpukat yang dibawa dari rumah.

Sekitar jam 11.00, kami capcus dari sekolah. Si anak kecil mau mampir ke ADA Swalayan, mau main sebentar di Game Fantasia. Dengan menggunakan angkutan kota a.k.a angkot, kami menuju ke ADA Swalayan. Si anak kecil mah excited naik angkot secara selama ini kalau kemana-mana selalu diantar mobil rumah ;p Tiba di ADA, main 4 permainan, tiba-tiba minta makan mie. Jadilah kita nangkring di foodcourt-nya ADA, pesan Mie Ayam Pangsit-nya Istana Mie. Heboh dia makan mie-nya malah nantang-nantang lomba makan mie sama saya (dan tentunya saya berpura-pura kalah aja gitu 😀 )

Her favourite food

Selesai mamam-mamam tjantik, lanjut ke hunting pernak pernik aksesoris. Hiyaaaaa……(buat yang kenal banget dengan saya akan komentar) bukan saya bangeeeeddd….. 😀 Kesambet apaan mampir-mampir ke counter aksesoris? Gegara si anak kecil bilang pengen jepet rambut princess. Wiiiih….langsung saya iya kan. Soalnya baru akhir-akhir ini dia munculkan karakter princess di cerita atau permainannya sehari-hari. Dulunya kalau cerita atau bermain, karakter yang selalu dimunculkan sekitar madagascar atau spongebob atau naruto atau little krisna dan karakter-karakter maskulin lainnya. So….begitu dia mulai menyebut princess, strawberry shortcake, saya pun mulai memberikan perhatian lebih 😀 Di counter aksesoris akhirnya si anak kecil dapat 2 jepet rambut bergambar little mermaid 🙂

Time to go home, sudah jam 12.30 dan terlihat battery si anak kecil mulai meredup 🙂 Nah, kalau tadi pagi berangkatnya pakai taxi, pulangnya ngga mau naik taxi lagi lah *tumben insyaf untuk berhemat 😀 * Alin sudah dari lamaaaa sekali pengen coba naik bus trans a.k.a Trans Semarang. Dulu pas awal Trans Semarang beroperasi, koridor yang dibuka baru yang di tengah kota Semarang, belum ada yang naik gunung mendekati rumah 🙂 Nah, akhir tahun kemarin, koridor baru dibuka dan rutenya sampai ke Semarang atas, which is mendekati rumah. So, demi memuaskan rasa penasaran tentang si Trans Semarang (saya pun juga belum pernah mencobanya lho 😀 ), kami pun berniat pulang dengan menggunakan bus trans. Halte terdekatnya ya di seberang ADA Swalayan.

Halte Trans Semarang

Tidak sampai 5 menit menunggu, satu armada datang dan kami menaikinya. Ternyata sedang penuh isinya. Sempat berdiri sebentar, sebelum ada salah satu penumpang yang turun di terminal Sukun. Si anak kecil pun dapat tempat duduk. Secara si emak tetap berdiri, jadi ngga ada tuh potoh-potoh di dalam bus trans 😀 Fasilitas bus trans-nya bersih dan nyaman. Adem juga pastinya 🙂 Cuma yah karena tidak menggunakan jalur khusus bus trans, saingan di jalan ketemunya sama truk-truk dan bus-bus luar kota (walaaaah….jadi ketahuan deh kalau rumahnya di luar kota 😀 😀 ). Tapi secara keseluruhannya sih nyaman 🙂 Cukup dengan membayar Rp. 3.500,- kami pun sampai di alun-alun lalu lanjut dengan dadah-dadah abang ojek untuk mengantar kami sampai rumah.

Yep! Fun moment ini tampaknya biasa saja buat orang lain, tapi tidak bagi saya dan Alin. Pergi hanya berdua dengan Alin dan mencoba bus trans merupakan satu pengalaman yang menyenangkan. Melihat dia keukeuh ingin naik bus trans padahal, saya tahu, kondisinya sudah lelah (dan sebetulnya dia bisa minta naik taxi yang lebih nyaman), +1 untuk dia (ini bahasa twitter banget ngga siiiih 😀 )