Cranky & Tantrum

Seperti sudah dijanjikan di postingan kemarin, saya mau cerita tentang cranky dan tantrumnya Alin.

Sejak awal mulai sekolah (waktu itu dia di kelas Pra-PG yang masuknya 2 kali seminggu), dia sudah dikenal sebagai anak yang pemberani. Percaya diri dan cukup matang untuk seusianya. Begitu juga di semester pertama ketika mulai masuk kelas PG. Guru-gurunya menjuluki dia sebagai Polwan karena dia cenderung suka memimpin temannya dan berani menegur teman yang tidak menuruti perintah guru. Bahkan ada masanya, ketika dia berani menyeret teman laki-laki yang badannya besar (Alin slim bo’ bodinya🙂 ) karena tidak berkenan dengan apa yang dilakukan temannya itu – sampai saya khawatir kalau Alin jadi anak yang agresif.

Nah, sejak masuk sekolah kembali setelah liburan akhir tahun kemarin, tiba-tiba perangainya berubah. Awalnya saya tidak ngeh dengan perubahan itu sampai pada hari ketiga, Alin pulang sekolah dengan menangis. Ketika saya konfirmasi ke gurunya, ternyata Alin mulai moody dan jadi sensitif sejak hari pertama masuk. Herannya, setiap malam (menjelang tidur) ketika saya bertanya tentang aktivitas apa yang dilakukan di sekolah, Alin selalu bercerita seperti biasa. Tidak ada cerita kalau dia menangis. Rupanya Alin tidak ingin saya tahu kalau dia menangis di sekolah. Jadi menurut gurunya, Alin sedang sensitif, tidak seceria biasanya dan mudah menangis. Dia menangis bukan karena dia ada kesalahan. Hanya karena misalnya ada teman yang diingatkan guru, Alin nangis. Gurunya pergi ke toilet sebentar, Alin nangis lagi. Dijatuhin temannya karena ngga sengaja, dia nangis juga (ya eyyallaaaaahhh…..dijatuhin teman kan sakit rasanya Bundaaaa…..)🙂. Jadi intinya, dia lagi sensitif berat.

Anehnya, sensitif ini hanya terjadi ketika di sekolah. Di rumah, dia baik-baik saja seperti biasanya. Ketika saya konfirmasi lagi ke dia kenapa menangis di sekolah, jawabannya pun beraneka ragam. Dari jawaban ngantuk pingin pulang, ngga boleh main sama miss/guru, dijatuhin teman, mau main di rumah saja deesbe…deesbe…. Tapi setelah ditanting pun, dia memilih untuk berangkat sekolah besoknya. Cuma yah begitu deh, di sekolah kembali berperan layaknya Mbak Soimah, jeritannya kuenceeeeng, kata gurunya😀

Tepat seminggu setelah masuk, acara pembagian LPA untuk anak-anak PG. Di sini sekalian saya dan gurunya, Miss Iin, berdiskusi tentang tantrumnya Alin. Dirunut-runut, ada beberapa kemungkinan.

(1)   Jetlag setelah liburan (cukup) panjang. Saat liburan kemarin, Alin full di rumah. Tidak ada acara jalan-jalan heboh karena saya tidak bisa cuti. Mungkin dia jadi terbiasa santai, mau main apa saja terserah dia sehingga ketika masuk sekolah dan mulai dengan aturan-aturan sekolah disertai berbagi bermain dengan teman lain, dia menjadi tidak nyaman

(2)   Separation anxiety. Iyes, si Mbak mau pulang awal Februari karena akan menikah dan kemudian mengikuti suaminya ke luar Jawa. Mungkin Alin menjadi khawatir dengan siapa dia akan bermain nanti kalau Mbak pulang.

(3)   Kangen sama ayah atau protes sama Bunda karena Bunda sibuk melulu dan sudah lama ngga diajak berenang :p

Nah, setelah pembagian LPA, saya tanting lagi si anak kecil. Saya keluarkan jurus token. Kalau Alin mau mengumpulkan 5 bintang maka Alin akan mendapatkan hadiah jam angry birds. Dia bisa mendapatkan bintang kalau tidak menangis di sekolah dan makannya cepat (tidak di-emut *pesan sponsor*🙂 ). Dengan tawaran itu, Alin setuju. *Toss dulu*

Maka, hari senin pun datang. Ehh….ternyata, dari bangun tidur pun, dia sudah mulai nguik-nguik beralasan masih ngantuk, mau bobok aja di rumah. Alarm saya pun berbunyi, ini anak lagi mau mulai beralasan sepertinya. Saya pun lalu mengajaknya mandi dan meminta dia melihat apakah masih mengantuk setelah mandi. Setelah mandi dan berpakaian, dia bilang lagi kalau masih mengantuk. Saya pun menyuruhnya sarapan dan meminta dia melihat apakah masih mengantuk setelah sarapan. Sarapannya tidak habis dan tiba saatnya berangkat sekolah, dia pun berkata lagi kalau mengantuk. Saya pun mengajaknya berangkat sekolah dan meminta dia melihat apakah masih mengantuk setelah sampai di sekolah. Tiba di sekolah, dia pun menggenggam erat tangan saya dan saya mengantarnya naik sampai ke lantai 2 (kelas PG-TK ada di lantai 2 dan seharusnya orang tua tidak diizinkan mengantar anaknya sampai atas – untuk melatih kemandirian). Tiba di atas, saya meminta dia meletakkan tas di lokernya. Nah! Dimulailah tangisannya. Kemudian Miss Iin datang, menggandeng dia dan mengajak ke ruangan cooking (hari itu kebetulan jadwal kelompok Corn adalah cooking class). Saya pun berangkat kerja.

Hari kedua , selasa, saya membujuknya ke sekolah dengan alasan harus mengembalikan raport/LPA nya ke sekolah hari itu. Apa yang terjadi di sekolah? Serupa dengan hari pertama. Rontok hati saya mendengar tangisan dan jeritannya. Namun setelah berbicara dengan gurunya, saya memang harus turun dan tidak menemani dia di atas. Hari itu, saya pun memutuskan untuk mengambil izin setengah hari untuk menunggui dia sekolah. Ketika saya menunggu di ruang tunggu bawah, kepala sekolah PG, Miss Ninuk, menghampiri saya. Kemudian kami pun berdiskusi.

Menurut Miss Ninuk, hal-hal seperti ini biasa terjadi pada anak-anak. Ada masa-masa anak menjadi tantrum di sekolah. Ada yang ketahuan sebab tantrumnya namun ada juga yang tidak ketahuan sebabnya. Berbarengan dengan Alin ini, ada teman Alin, Livia, juga mengalami hal yang sama. Namun Livia sudah lebih baik, tantrumnya hanya seminggu awal. Miss Ninuk bercerita, setelah saya tinggal turun ke bawah, Alin ditemani oleh beliau. Awalnya Alin masih menangis dan menjerit minta pulang seperti ini :

Alin                 : Alin mau telepon Bunda

Miss Ninuk   : Alin punya nomor telepon Bunda?

Alin                 : Ngga punya. Miss Ninuk punya

Miss Ninuk   : Miss Ninuk ngga punya nomor telepon Bunda

Alin                 : Tanya Mbak, telepon Mbak

Miss Ninuk   : Miss Ninuk juga ngga punya nomor telepon Mbak

Alin                 : Miss Ninuk, ayo, pulang sama Alin

Miss Ninuk   : Kita mau pulang pakai apa? Miss Ninuk ngga punya mobil

Alin                 : Pulangnya jalan kaki

Miss Ninuk   : Jalan kaki? Nanti Miss Ninuk capek

Alin                 : Miss Ninuk ngga boleh capek. Alin ngga capek kok…

(silakan dibayangkan percakapannya dengan Alin yang bicara sambil menangis yah).

Lalu Miss Ninuk duduk disamping Alin (mereka duduk di luar lingkaran anak-anak yang sedang bernyanyi dan bermain). Setiap ada nyanyian ada gerakan di lingkaran bermain, Miss Ninuk mengikuti dan memberi contoh ke Alin. Awalnya Alin masih menangis dan tidak mempedulikan contoh Miss Ninuk. Namun tidak lama, Alin tiba-tiba maju dan masuk ke lingkaran bermain lalu mulai ikut bernyanyi dan bermain bersama teman-temannya yang lain.

Menurut Miss Ninuk, menangisnya Alin lebih masuk ke menangis manja bukan karena takut atau sakit. Oleh karenanya, para guru pun berani untuk meminta saya turun dan tidak menemani Alin karena masih bisa dihandle oleh mereka. Masa-masa tantrum seperti ini, orang tua memang harus lebih tega (tegel kalau dalam bahasa Jawa) dan tidak mudah menuruti apa yang dimaui anak. Misalnya, sekali saya menuruti dia untuk pulang, maka hal itu akan menjadi senjata dia untuk kali lainnya. Saya sepakat dengan penjelasan Miss Ninuk karena saya (sebagai emak) juga merasa tangisannya memang bukan karena sakit. Manja yang lagi kebablasan tampaknya. Yep! Saya perlu menata hati dan rasa. Zaman kuliah dulu, saya juga pernah mendapatkan teori bagaimana treatment terhadap tantrum pada anak-anak, tapinyaaaa….kalau yang dihadapi anak sendiri, ternyata oh ternyata……teorinya langsung nggeblas….bablas…..😀 Yang ada hanya perih….perih….rontok….rontok hati….. *lebay yak tapi beneran deh*

Dan sodara-sodara pada saat Alin turun keluar kelas hari itu, sumringah dong wajahnya. Sambil membawa tanaman jagung (kebetulan minggu sebelumnya, anak-anak beraktivitas menanam biji jagung di kotak-kotak kecil), dia berteriak ke saya, “Bunda….Alin hebat ya, tanamannya tumbuh!”. Ora sumbuuuttt, Aliiiiinnn….. (bahasa Jawa ituh… yang artinya ngga gentle aja gitu sama hebohnya dia waktu awal hari tadi).

Hari ketiga. Tangisan dimulai dari rumah dan saya berusaha tidak terpengaruh dengan tetap menuntunnya melakukan aktivitas seperti biasanya (mandi, berpakaian, makan). Sama seperti hari sebelumnya, sarapannya hanya masuk 3 sendok koko krunch. Tangisannya belum mau berhenti sampai saya katakan bahwa saya dan Mbak mau berangkat ke sekolah, apa Alin mau ikut? Dijawabnya dengan…..menangis! Lalu saya bicara padanya, “Alin mau ikut sama Bunda sama Mbak ya….Alin mau jalan sendiri atau gendong Bunda?” dan dia jawab, “Gendong” (sambil masih sesenggukan). Dan saya pun langsung membopongnya, memakaikan kaos kaki, jacket dan sepatu.

Di mobil, dia duduk di pangkuan saya dan diam cemberut. Tiba di sekolah, dia kembali menggenggam erat tangan saya dan saya sampaikan kalau saya masih akan mengantarnya sampai atas. Saya antarkan dia menyimpan tas di loker dan…….mulai deh menangis dan menjerit. Saya ajak dia ke pojok ruangan (supaya tidak mengganggu teman-teman yang baru datang) dan bicara ke dia, “Bunda sayang sama Alin. Alin sekolah dulu sebentar. Bunda juga kerja sebentar. Nanti sore kita ketemu main di rumah ya” setelah itu Miss Iin memeganginya. Saya mencium Alin dan jalan turun ke bawah dengan mata mbrambang sambil mendengar tangisannya yang belum berhenti. Tidak sampai 5 menit saya menunggu di bawah tangga, suara tangisan sudah tidak ada. Salah satu guru kebetulan turun ke bawah dan menyampaikan kalau Alin sudah bermain bersama teman-temannya. Syukurlah, saya bisa berangkat kerja dengan tenang.

Di kantor, saya mendapatkan kabar kalau Alin pulang sekolah dengan ceria. Kebetulan salah satu mama PG ulang tahun hari itu dan menitipkan paket McD untuk Alin yang diterima si Mbak. Si Mbak bilang, begitu Alin turun dan melihat ada pake McD langsung minta makan. Jadi di mobil dia nitili nasi dan ayam McD sampai habis. Jelaslah….si anak kecil kelaparan berat secara paginya (dianggap) tidak sarapan.

Hari keempat, which is hari ini yak🙂

Bangun tidur masih dengan nguik-nguik beralasan ngantuk. Saya pun mulai menuntunnya untuk mandi dan berpakaian. Sarapannya kali ini dibuatkan mie dan telur dadar, menu favorit Alin. Dan tahu apa yang terjadi? Karena efek psikosomatis (masih enggan berangkat sekolah), Alin berasa mual dan ingin muntah. Menu favorit tidak menyembuhkan, jadi hanya 4 sendok mie yang masuk ke perut. Kemajuannnya pagi ini adalah dia tidak menolak memakai seragam, kaos kaki dan sepatu dari rumah. Keluar dari rumah menuju mobil juga mau berjalan sendiri dengan menggandeng saya. Nah, kebetulan kemarin si mama ulang tahun bawa cupcake red velvet juga. Karena semalam belum termakan, jadilah pagi ini saya bawa ke kantor. Di mobil, saya berkomentar betapa lucu dan menariknya cupcake itu. Terjadilah percakapan ini…

Alin     : Bunda, itu kuenya namanya apa?

Saya    : Cupcake, Alin

Alin     : Kapkep ya (😀 )

Saya    : Kapkeik. Ini kan sama seperti waktu Alin ulang tahun kemarin, banyak kapkeik-nya

Alin     : Ulang tahunnya Alin ada kapkep juga. Kuenya Ales (maksudnya adalah karakter Alex di film Madagascar).

Saya    : Iya, kue ulang tahunnya Ales. Ada Melman juga, terus ada siapa lagi itu?

Alin     : Zebra…..sama Gloria

Saya    : Kuda Nil, Alin. Kuda Nil-nya namanya Gloria

Alin     : Kuda Nil! (sambil ketawa merasa lucu). Alin mau jadi Ales, Bunda

Saya    : Oh ya? Kalau Alin jadi Ales, yang jadi Melman Jerapah siapa?

Alin     : Lolo jadi jerapah

Saya    : Zebra-nya?

Alin     : Hmmm……Felice

Saya    : Oh, Felice jadi zebra ya. Yang jadi kuda nil?

Alin     : Kuda Nil-nya Keisha

Saya    : Oke, Keisha jadi kuda nil. Terus, itu kan ada pinguin juga sama monyet. Siapa yang jadi pinguin sama monyet?

Alin     : Pinguin-nya Rafi…..Rafi Adi (ketawa lagi karena merasa lucu)

Saya    : Monyetnya?

Alin     : Daven

Saya    : Yang jadi ibu polisi?

Alin     : (berpikir agak lama) Aira jadi ibu polisi!

Dan kami berdua pun melanjutkan pembicaraan berkhayal ini sambil tertawa-tawa sepanjang jalan.

Nah, mendekati sekolah, tiba-tiba Alin berkata ke saya

Alin     : Bunda, Alin nanti di sekolah ngga nangis kok

Saya    : Oh ya? Bagus sekali itu

Alin     : Alin mau 3 bintang

Saya    : Oh iya ya, kemarin Alin sudah dapat 2, kurang 3 ya

Alin     : (angguk-angguk)

Saya    : Sipp! Alin hari ini ngga nangis dan makannya baik, dapat 3 bintang!

Alin     : (senyum sumringah)

Dan apa yang terjadi sodara-sodara? Tiba di sekolah, dia turun dari mobil dengan mantap. Dia ambil tas dan memakai di punggungnya. Dia melangkah dengan tenang dan menaiki tangga sendiri dengan mantap juga. Owww….emaknya takjub euy….

Agak siangan, saya sms sang guru untuk menanyakan bagaimana Alin hari ini. Alhamdulillah, she’s just fine today. Kembali ceria seperti biasanya. Syukurlah….semoga ini adalah pertanda baik.

We all want our “Polwan” back, Alin…😀

3 thoughts on “Cranky & Tantrum

    • Ohh….Andrew sempat begitukah?

      Saya kaget juga sebetulnya, mungkin karena ini pengalaman pertama yah Alin cranky begitu. Syukurlah sudah 2 hari membaik, mudah-mudahan seterusnya🙂

  1. Pingback: Kencan dan Trans Semarang – FWA#2 | Mitzh Learns to Write

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s