Weekly Photo Challenge : Foreign

Last year, we had a trip to Thailand, a beautiful country, rich in culture and heritage buildings. Thailand people still adhere to the culture, including the use of everyday language, still use their mother tongue. A bit difficult to understand the language of Thailand, besides, they are not familiar with the English language. So what happened was we often interact using body language/gesture πŸ™‚

Weekly Photo Challenge : Big

He is my big (in size) little brother. His name is Anung. He has his kidney disease since he was 12 or 13 years old.

The disease is getting worse. When aged 22, he had to undergo dialysis several times a month. He underwent dialysis without complaining even though we all know it’s very painful. He just always makes jokes that entertained us all.

He once said to our mother, all created by God would return to God. Humans try as much as possible, then God do the rest. But God seems very love him and not let him suffer any longer.

He died 6 years ago, at the age 23 years after comma for 10 days. We feel the sadness, but the trail he left behind has always strengthened us as a family.

For me, he is a big model of resilience and generosity

Notes : the picture was taken 7 months before he passed away.

Bento

Berawal dari PR besar saya tentang kebiasaan Alin mengemut makanan yang notabene membuat waktu makan menjadi sangat lamaaaa….. Di play group nya saat ini, setiap anak diwajibkan untuk membawa bekal yang akan disantap bersama di setengah jam terakhir sebelum usai sekolah. Awal-awal (saat dia masih pra-PG), saya hanya membekali dia dengan roti atau cookies atau mie goreng plus susu kotak dan air putih. Hasilnya, dia lebih sering minum air putihnya (she just loooove the mineral water) dan mencomot 1 buah cookies. That’s all! πŸ˜€

Ketika tahun ajaran baru PG secara formal dimulai, saya pun berniat untuk serius menggarap bekal sekolah Alin supaya dia mau menghabiskan bekalnya (sebagai salah satu bagian untuk memperbaiki kebiasaan makannya selama ini). Secara emaknya ini bersahabat karib dengan mbah gugel, mbah gugel pun menjadi sasaran pertanyaan. Dari mbah gugel tersedia banyak alternative website atau blog yang membahas tentang kebiasan makan. Nah, salah satunya nyasar ke blog Just Bento dan bentolicious yang membahas tentang bento. Apaan itu bento? Bento sendiri sebetulnya istilah bekal makanan di Jepang sana, biasanya terdiri dari nasi, ikan atau daging dan sayur yang kemudian ditata dengan apik. Sewaktu saya surfing di blog-blog bento yang lainnya (dan ternyata banyak bener itu blog-blog bento), sempat takjub juga. Kreatif bener ini orang-orang yang bisa menata makanan jadi tampil lucu dan menyenangkan.

AHA!! Saya akan lakukan hal yang sama untuk bekalnya Alin. Pertimbangannnya sederhana saja sih, kalau makanan ditata dengan apik, orang jadi akan semangat buat menyantapnya. Saya berharap hal yang sama juga terjadi pada Alin nantinya πŸ™‚

So, sudah 1,5 bulan ini, saya sisihkan waktu ekstra di pagi hari untuk fokus nge-bento bekalnya Alin nih. Bento nya saya mah sederhana sekali dan dalam volume mini. Ini beberapa diantaranya.

Beberapa teman-teman saya dan ibu-ibu di PG Alin sempat ada yang bertanya, berapa lama untuk membuat bento itu, kok niat sekali hias-hias bekal anak, apa setelah dihias lalu habis dimakan di sekolah dan lain-lain. Beberapa juga menguatkan saya dengan memberikan ide-ide baru tentang bento, memberikan peralatan bento dan mengapresiasi hal yang saya lakukan. Pertanyaan yang sering berulang, apakah bekalnya itu dimakan habis oleh Alin di sekolah? Jawaban saya : TIDAK! Sampai dengan sekarang, belum pernah tercatat dalam sejarah kalau Alin menghabiskan bekalnya. Kadang dia makan separoh, seperempat dan pernah juga tidak disentuh sama sekali 😦  Tapi saya mah belum menyerah sekarang, justru semakin tertantang untuk membuat bento yang lebih menarik lagi buat Alin.

Beberapa hari terakhir, saya mulai melibatkan Alin untuk urusan bekal sekolah. Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya tentang bekal apa yang dia mau bawa untuk sekolah besok paginya. Apa yang dia katakan, itu yang saya kerjakan besok paginya. Setelah diperhatikan, ternyata itu membawa dampak lho. Paling tidak separoh bekalnya dia makan (tidak seperti sebelum-sebelumnya). Lantas, AHA!! muncul lagi. Melibatkan dia untuk memutuskan sesuatu ternyata bisa mengajarkan dia untuk berkomitmen terhadap pilihannya. Walaupun masih urusan bekal sekolah (yang buat sebagian besar orang dianggap hal yang remeh πŸ™‚ ), dia belajar sedikit-sedikit tentang komitmen πŸ™‚ Mudah-mudahan bisa langgeng yah komitmennya ini πŸ˜€

Well, itu hanya sedikit sharing saja. Apakah PR besar saya tentang kebiasaan makan Alin sudah selesai? Tentu saja belum, perjalanannya masih panjang….. πŸ˜€