Surat Balasan Untuk Takita

Dear Takita….,

Maaf ya Bunda telat banget baca suratnya Takita. Nah, sekarang Alin nya sudah bobok sehingga Bunda sudah bisa untuk membalas surat Takita. Oh iya, Alin itu putri Bunda yang sebentar lagi mau berusia 4 tahun, sepantaran Takita ngga ya? 🙂

Dengan perkembangan teknologi yang makin canggih belakangan ini memang membuat kecenderungan untuk “sibuk dengan dirinya masing-masing” atau suka dibecandain sebagai “mutisme” semakin besar. Fasilitas teknologi semakin beraneka ragam (dari yang dulu chat via YM-an sampai sekarang ada Nimbuzz, Whatsapp, BBM dll) disertai pula dengan semakin semaraknya sosial media. Hal-hal baik tersebut bila digunakan tidak pada proporsinya akhirnya membawa dampak yang negatif juga ya, termasuk di kalangan orang tua nih Takita. Bunda pun kadang-kadang ada masa “kepeleset”nya juga untuk urusan ini, misalnya, lebih asyik bbm-an daripada ngajak ngobrol si kecil *cubit diri sendiri*.

Selain itu, kemajuan teknologi pula membuat bermunculan aneka ragam DVD/VCD animasi yang memiliki muatan pendidikan bagi anak. Muncul pula CD-CD program belajar untuk anak yang bisa diinstal di komputer sehingga anak bisa belajar melalui komputer. Tidak hanya ayah atau bunda yang terpaku di depan layar monitor, sang anak pun bisa-bisa ketularan untuk hal yang sama juga. Jadi bisa dibayangkan dalam satu ruangan yang berisi ayah, bunda dan anak tapi tidak ada suara…..sunyi…..masing-masing sibuk dengan aktivitasnya sendiri😦

Mengerikan sebetulnya ya bila itu terjadi, tapi kita tidak boleh pesimis. Pasti ada jalan kalau ada kemauan. Untuk meminimalisir terjadinya hal itu, sekarang Bunda belajar lebih disiplin untuk membagi waktu. Misalnya, Alin hanya boleh nonton DVD maksimal 1 jam di sore/siang hari, maksimal 30 menit untuk mainan di laptop, sisa waktunya untuk bermain di taman bersama teman-teman atau membaca / menggambar / aktivitas lainnya. Lalu Bunda pun mendisiplinkan diri untuk online/blogwalking/surfing internet hanya ketika Alin sudah tidur di malam hari.

Tentang bercerita dan membaca, kami pun punya aturan mainnya juga. Sejak bayi, Alin sudah disediakan soft book (buku yang terbuat dari kain) yang isinya gambar-gambar. Sejak usia 1,5 tahun sampai dengan sekarang, buku-buku cerita dan bergambarnya mulai bertambah banyak. Karena dia masih kecil, buku-bukunya lebih banyak menyajikan gambar-gambar dibandingkan tulisan. Oleh karenanya, tugas Bunda atau Ayahnya atau si Mbak atau orang-orang di sekelilingnya yang membahasakan dan menceritakan buku itu kepadanya. Sampai dengan usia 3,5 tahun, kami tidak memiliki jadwal tetap kapan dia ‘membaca” buku. Hanya kalau dia ingin “membaca” maka kami siap membahasakan🙂

Semakin kesini, Bunda semakin rajin hunting buku cerita untuk dia sehingga otomatis semakin lebih sering untuk membahasakan cerita buku itu. Namun memang belum terjadwal rapi. Nah, awal September kemarin, kegiatan membahasakan atau bercerita menjadi rutin setiap malam sebelum Alin tidur🙂 Ternyata bisa juga lho…. Pada saat ini, setiap Alin selesai bersih-bersih badan dan berganti baju tidur, dia akan memilih buku dan ceritanya dan berkata dengan semangat kepada Bunda, “Ayo Bunda, Alin mau baca buku ini” dan Bunda pun mulai bercerita.

Jadi, Takita tidak perlu takut ya, Takita punya teman satu nih disini🙂 Tidak perlu khawatir juga, karena Bunda pun sharing tentang hal ini ke teman-teman Bunda yang lainnya juga. Mudah-mudahan bisa menular ke yang lainnya juga ya🙂

2 thoughts on “Surat Balasan Untuk Takita

  1. Pingback: Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita - Blog Indonesia Bercerita

  2. Pingback: Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita | Blog Teman Takita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s