Keinginan

Yup! Sama seperti pada saat saya menulis Merepih Alam, lagunya Indra Lesmana dan Sophia Latjuba yang ini pun hadir tiba-tiba. Setiba di kantor tadi pagi, tiba-tiba saja saya bersenandung lagu itu, padahal radio di mobil tadi pagi juga tidak memutar lagu yang sama.

Keinginan. Bila mencermati liriknya, lagu ini bagus juga. Ceritanya si perempuan ingin bisa aktualisasi diri yang lebih lagi karena jenuh dengan kondisinya. Well, a little bit sounds like she needs freedom and ask him to let her choose. He told her that he always try to understand all of her dreams, encourage her and ask her not to have prejudice that he curb her. He also promise her that he will take her much better. Cieee……hehehe, si mas-nya ini pasti punya jargon “Bersama Kita Bisa” deh 🙂

Nyuplik dari yutup, silakan dinikmati saja ya video clip asli zaman Indra dan Sophia masih bersama 🙂

Liriknya yang ini yaaa…..

Tak kuasa kumenahan jenuh ini
Kian lama kian menyesak menyiksa dalam hampa
Sebaiknya kau biarkan ku memilih
Agar tiada kendala antara kita yang menjadi penyesalan

Kuingin memahami segala yang menjadi beban di benakmu
Hilangkanlah prasangka seolah ku mengekang keinginan yang kau pendam

Mungkin sulit untuk dapat dimengerti
Ku seperti ingin selalu terbang tinggi… jauh tinggi..
Cinta ini tak akan mungkin memudar
Kata hati tak akan mungkin berubah… jadinya.. karenanya..

Kuingin mengikuti segala yang menjadi hasrat di hatimu
Hilangkanlah prasangka seolah ku mengekang keinginan yang kau pendam

Funthinkers

Apaan tuh Funthinkers?

Berawal saat kami jalan-jalan menyaksikan Pameran Pendidikan di Java Mall pada sekitar bulan Februari lalu. Itu kali pertama kami serius lihat pameran pendidikan karena sedang punya “hajat” hendak mencari informasi sekolah untuk Alin. Di salah satu stand yang berjudul Grolier Widyadara menyajikan permainan Funthinkers tersebut. Bentuknya sepert ini nih…

Pada saat itu, mereka menyediakan 3 atau 4 meja kecil bagi anak-anak yang ingin mencoba bermain. Yup! Alin salah satunya yang ingin mencoba.

Satu paket Funthinkers terdiri dari 10 set buku (3 math, 3 english, 3 thinking skill dan 1 all around fun) dan 1 papan/board permainan. Paket ini menyajikan pengenalan dan latihan untuk hal-hal yang berkaitan dengan angka dan berhitung, kemudian pengenalan huruf serta vocab dalam bahasa Inggris serta melatih kemampuan logika. Masing-masing subyek terdiri dari 3 tingkatan/level. Tidak terlalu rumit karena semuanya hanya yang bersifat dasar/basic.

Bagaimana cara bermainnya? Begini, misalnya Alin lagi mau main untuk buku English (tentu saja) level 1 dan untuk pengenalan huruf 🙂

Instruksi berada di halaman kiri atas. Disini Alin diminta untuk mencari huruf yang sama antara halaman kiri dengan halaman kanannya. Papan permainan diletakkan terbuka pada 2 halaman buku tersebut. Pada papan yang berada di sebelah kiri, diisikan dengan panel-panel angka, diurutkan dari angka 1 sampai dengan 16. Pada saat mengurutkan ini pun, Alin diajak untuk menatanya bersama sehingga ia bisa sekaligus belajar mengenal angka 🙂 Setelah panel tersusun rapi dan benar maka satu persatu panel dibuka secara urut dan ditempatkan pada papan yang sebelah kanan, disesuaikan dengan jawaban atas instruksi awal. Seperti contoh, instruksinya adalah mencari huruf yang sama, maka ketika Alin membuka satu panel pada papan kiri yang berisi huruf D maka ia harus menempatkan panel tersebut di papan kanan pada huruf D pula.

Setelah semua panel diletakkan di papan kanan, Alin pun bisa memeriksa sendiri berapa benar dan salah dari apa yang sudah dikerjakan. Caranya dengan menutup kedua papan tersebut dan memposisikan terbalik sehingga punggung panel bisa terlihat. Di balik panel yang tertulis angka, terdapat warna yang berbeda-beda, ada yang berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Nah….pada buku di halaman kanan atas terdapat gambar pola warna yang menunjukkan pola warna apa yang akan terbentuk bila Alin tepat benar menjawab/memindahkan panel-panel tadi 🙂 Mudah bukan? 🙂

Sejauh ini Alin senang bermain Funthinkers (dia menyebutnya “main kuning-kuning” karena tas/wadah Funthinkers berwarna kuning cerah 😀 ) tapi memang tidak rutin setiap hari. Dari 3 bahasan utama itu, dia paling suka buku Thinking Skill dan Math. Untuk informasi lebih lengkap lagi bisa klik disini ya….. 🙂

Surat Balasan Untuk Takita

Dear Takita….,

Maaf ya Bunda telat banget baca suratnya Takita. Nah, sekarang Alin nya sudah bobok sehingga Bunda sudah bisa untuk membalas surat Takita. Oh iya, Alin itu putri Bunda yang sebentar lagi mau berusia 4 tahun, sepantaran Takita ngga ya?  🙂

Dengan perkembangan teknologi yang makin canggih belakangan ini memang membuat kecenderungan untuk “sibuk dengan dirinya masing-masing” atau suka dibecandain sebagai “mutisme” semakin besar. Fasilitas teknologi semakin beraneka ragam (dari yang dulu chat via YM-an sampai sekarang ada Nimbuzz, Whatsapp, BBM dll) disertai pula dengan semakin semaraknya sosial media. Hal-hal baik tersebut bila digunakan tidak pada proporsinya akhirnya membawa dampak yang negatif juga ya, termasuk di kalangan orang tua nih Takita. Bunda pun kadang-kadang ada masa “kepeleset”nya juga untuk urusan ini, misalnya, lebih asyik bbm-an daripada ngajak ngobrol si kecil *cubit diri sendiri*.

Selain itu, kemajuan teknologi pula membuat bermunculan aneka ragam DVD/VCD animasi yang memiliki muatan pendidikan bagi anak. Muncul pula CD-CD program belajar untuk anak yang bisa diinstal di komputer sehingga anak bisa belajar melalui komputer. Tidak hanya ayah atau bunda yang terpaku di depan layar monitor, sang anak pun bisa-bisa ketularan untuk hal yang sama juga. Jadi bisa dibayangkan dalam satu ruangan yang berisi ayah, bunda dan anak tapi tidak ada suara…..sunyi…..masing-masing sibuk dengan aktivitasnya sendiri 😦

Mengerikan sebetulnya ya bila itu terjadi, tapi kita tidak boleh pesimis. Pasti ada jalan kalau ada kemauan. Untuk meminimalisir terjadinya hal itu, sekarang Bunda belajar lebih disiplin untuk membagi waktu. Misalnya, Alin hanya boleh nonton DVD maksimal 1 jam di sore/siang hari, maksimal 30 menit untuk mainan di laptop, sisa waktunya untuk bermain di taman bersama teman-teman atau membaca / menggambar / aktivitas lainnya. Lalu Bunda pun mendisiplinkan diri untuk online/blogwalking/surfing internet hanya ketika Alin sudah tidur di malam hari.

Tentang bercerita dan membaca, kami pun punya aturan mainnya juga. Sejak bayi, Alin sudah disediakan soft book (buku yang terbuat dari kain) yang isinya gambar-gambar. Sejak usia 1,5 tahun sampai dengan sekarang, buku-buku cerita dan bergambarnya mulai bertambah banyak. Karena dia masih kecil, buku-bukunya lebih banyak menyajikan gambar-gambar dibandingkan tulisan. Oleh karenanya, tugas Bunda atau Ayahnya atau si Mbak atau orang-orang di sekelilingnya yang membahasakan dan menceritakan buku itu kepadanya. Sampai dengan usia 3,5 tahun, kami tidak memiliki jadwal tetap kapan dia ‘membaca” buku. Hanya kalau dia ingin “membaca” maka kami siap membahasakan 🙂

Semakin kesini, Bunda semakin rajin hunting buku cerita untuk dia sehingga otomatis semakin lebih sering untuk membahasakan cerita buku itu. Namun memang belum terjadwal rapi. Nah, awal September kemarin, kegiatan membahasakan atau bercerita menjadi rutin setiap malam sebelum Alin tidur 🙂 Ternyata bisa juga lho…. Pada saat ini, setiap Alin selesai bersih-bersih badan dan berganti baju tidur, dia akan memilih buku dan ceritanya dan berkata dengan semangat kepada Bunda, “Ayo Bunda, Alin mau baca buku ini” dan Bunda pun mulai bercerita.

Jadi, Takita tidak perlu takut ya, Takita punya teman satu nih disini 🙂 Tidak perlu khawatir juga, karena Bunda pun sharing tentang hal ini ke teman-teman Bunda yang lainnya juga. Mudah-mudahan bisa menular ke yang lainnya juga ya 🙂

Ketika demam, batuk dan pilek melanda

Awal september yang seharusnya ceria (menurut Vina Panduwinata 🙂 ) ternyata tidak seceria yang diinginkan. Si anak kecil harus libur sekolah seminggu karena radang tenggorokan 😦

Dimulai dari demam di minggu sore ternyata berkelanjutan menjadi radang ditambah batuk dan diakhiri dengan pilek di awal minggu ini. So, akhirnya si anak kecil memang harus istirahat penuh di rumah supaya kondisinya lekas pulih.

Beberapa hal yang saya perhatikan setiap kali Alin sakit adalah sikapnya yang tetap ceria. Dia tetap bisa ketawa ketiwi, bercanda dan lari sana lari sini. Terkadang ketika demamnya meninggi dan tampak sorot matanya kuyu, tetap dia maunya beraktivitas – entah nonton kartun, gambar-gambar, baca (read : lihat) buku, mainan hamster atau yang lainnya. Yah, mungkin ini juga yang membuat agak ekstra waktu untuk pulih karena dia jadi sulit kalau disuruh istirahat/tidur. Namun sikap positif-nya di saat sakit atau dalam kondisi tidak enak ini selalu saya encourage karena saya termasuk yang percaya bahwa kondisi psikis/mental memiliki pengaruh ke kondisi fisik. Saya senang karena Alin sudah menunjukkannya di usia dini sehingga memang kami perlu tetap menguatkan sikap itu 🙂

Makan selama sakit? Sama. Masih lama juga, masih suka diemut 🙂 Minum obat? Alin bukan tipe anak yang sulit untuk minum obat. Pada hari ketiga sakitnya, dokter memberi dia antibiotik dalam bentuk puyer yang tentu saja rasanya pahit. Ternyata ngga sulit buat dia minum puyer itu. Syukurlah…

As usually, setiap kali Alin sakit selalu ditutup oleh saya. Yup, sekarang giliran saya yang kondisinya sedang drop ditambah dengan kondisi cuaca pancaroba yang tidak jelas begini. Ya….ya….ya…., saya pun sedang berusaha untuk tetap berpikir dan berperasaan positif supaya cepat pulih. Doakan kami…. 🙂