The Diary of Amos Lee 2 — Renungan di WC, Tentang Pertandingan, Anak Cewek dan Kemenangan!

(Notes : tulisan ini pernah diposting di blog saya yang lain pertengahan 2011🙂 )

=====================================================

2_diary_of_amos_lee__27421_zoom

Jiaaahhh….salah beli buku nih!!! Itu komentar pertamaku pas buka buku ini di rumah. Kesalahannya sederhana saja. Aku salah beli buku ini karena langsung beli buku seri kedua-nya padahal buku pertama belum pernah sama sekali kubaca. Jadi sempat keki juga karena berpikir bakalan ada missing link kalau langsung baca yang kedua. Tapi dengan nekad *baca : ngebet baca*, mulai kubaca juga buku ini.

The Diary of Amos Lee adalah buku yang menceritakan seorang anak laki-laki bernama Amos yang hobby buku harian. Uniknya adalah ritual menulis buku harian ini ia lakukan di toilet. Setiap ia selesai menulis, ia akan selalu berusaha menyembunyikan buku harian itu supaya tidak ditemukan oleh sang mama. Sayangnya, sang mama selalu menemukan buku itu dan selalu memberikan komentar balik terhadap tulisan-tulisan Amos.

Amos tinggal di Singapura bersama kedua orang tuanya dan 2 orang adik (PRJ dan Everest). Buku ini menceritakan tentang Amos yang sedang berjuang dalam tim renang di sekolahnya untuk mengikuti kompetisi estafet renang antar sekolah. Bagaimana Amos melewati masa-masa jenuh berlatih dan sempat yang ingin keluar dari tim. Namun karena hal yang tidak sengaja ia tulis ketika mendapat tugas menulis tentang pertandingan sepakbola antara China melawan Singapura, Amos justru menyadarkan diri bahwa seharusnya ia memiliki api *baca : semangat* untuk berjuang. Ia juga menyaksikan kucing peliharaan keluarga yang berjuang untuk menangkap seekor cicak padahal kucing itu hanya memiliki 3 kaki. Hal-hal sederhana yang membuat ia tersadar bahwa ia tidak boleh patah semangat.

Disamping itu, diceritakan juga bagaimana Amos sempat merasakan cemburu karena sahabat dekatnya, Alvin, mulai menjauh karena memiliki teman perempuan baru, Somaly. Bagaimana Amos berusaha untuk menjelek-jelekkan Somaly namun akhirnya ia justru terbantu dengan kehadiran Somaly.

Amos diceritakan sebagai seorang anak yang suka menulis. Selain menulis di buku harian, ia juga suka menulis artikel yang kemudian ia jual ke teman-temannya dan sempat memenangkan suatu lomba menulis.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menyentuh dengan untaian kalimat yang ringan tetapi memiliki banyak pelajaran yang bisa ditarik. Kita juga dibawa ke suasana kehidupan sehari-hari di Singapura yang terkenal dengan ketertibannya. Menariknya juga karena dilengkapi dengan gambar ilustrasi hampir di setiap halamannya. Buku ini dapat direkomendasikan untuk dibaca oleh remaja.

Oiya, di bagian akhirnya, Amos berpikir untuk membuat diary online *baca : blog* dan ternyata memang jadi ada blognya lho. Ini dia link nya :  http://www.amoslee.com.sg/blog.asp

Happy reading ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s