Kicau Kacau-nya Indra Herlambang

Saya termasuk tipe orang yang suka mengkoleksi buku. Hobby sekali membeli buku tetapi….jarang-jarang yang bisa eksekusi tuntas membacanya. Masih banyak buku-buku berplastik di rak buku saya :p

Nah, sekitar 6 bulan terakhir saya berusaha untuk disiplin membaca, yah…paling tidak 1 bulan 1 buku terbaca. Hasilnya lumayan lah….buku berplastiknya mulai berkurang he..he..he.. Buku-buku yang sudah saya baca akan saya review di blog ini ya….dalam urutan yang random :p

Buku terakhir yang saya baca di bulan Januari 2012 ini adalah bukunya Indra Herlambang yang berjudul Kicau Kacau — Curahan Hati Penulis Galau. Awalnya saya lihat buku ini di pertengahan tahun 2011. Eye-catch sekali buku ini, dengan sampul warna kuning terang dan gambar Indra berpakaian burung…. Tergoda buat ngambil, tapi masih bertanya-tanya seperti apa isinya? Jangan-jangan sama kayak bukunya Raditya Dika — ngocol n curhat ngga jelas gitu hehehe…. (tapi saya suka tulisannya Dika lho….benar-benar menghibur *bukan untuk sesuatu yang harus dicermati serius itu mah*). Dan akhirnya baru nyomot bukunya Indra di akhir tahun 2011 kemarin!

Apakah langsung saya baca? Tentunya….TIDAK! Masih ngantri dulu sama buku 2 nya Donny Dhirgantoro🙂 *kapan-kapan saya tulis review buku 2 nya Donny di sini ya…*

Dan akhirnya baru sekitar minggu lalu saya baca buku Kicau Kacau ini.

Oww….oww….oww…., ternyata saya salah mengira.

Orang yang cukup kritis dengan pemikiran yang oke, saya rasa. Di buku ini, Indra menceritakan tentang kehidupannya, pengamatan terhadap lingkungan di sekitarnya, tentang keluarga….so daily life… Saya jadi berasa melihat kehidupan sehari-hari dengan baca buku ini. Terbagi menjadi 4 bagian (life style, relationship, Jakarta, family), semua kisah adalah nyata Indra. Nyata dia alami, nyata dia rasakan, nyata dia amati dan nyata dia pikirkan. Sekarang saya cuplik 1 kisah dari setiap bagian itu yang paling “nendang” buat saya😀

Di bagian life style, salah satu tulisan berjudul “Kacamata Tiga Dimensi di Hidung, Klepon Lezat di Mulut”. Tulisan ini bercerita tentang Indra yang bertanya-tanya kenapa cemilan (sepertinya) menjadi barang wajib kalau kita nonton? Kalau kita perhatikan di sekitar kita (dan diri kita sendiri ya…), memang seperti itu kan? Padahal ngga ada tuh pakemnya, kalau nonton wajib ngemil…hehehe… Nah, si Indra kasih contoh waktu dia nonton bioskop 3D sama temannya, pas tengah-tengah nonton, si teman nawarin klepon gitu ke Indra…widiiiwww….ada yang bawa klepon ke bioskop euy…. :D  Cerita ini juga mengena buat saya karena saya jadi teringat cerita salah seorang sahabat saya yang pernah bawa ikan asin goreng buat camilan nonton bioskop! Indraaaa…..temanku ada yang lebih dasyat lagi ini, bawanya ikan asiiiinn…..😀

Di bagian relationship, salah satu tulisannya berjudul “Satu Telunjuk untuk Menjawab Banyak Pertanyaan”. Intinya sih bercerita kelakukan orang-orang “kepo” kalau lihat ada orang lain makan di food court sendirian, nonton bioskop sendirian, liburan ke luar negeri sendirian — dan biasanya akan langsung menunjukkan ekspresi wajah dahi berkerut, pandangan heran seakan bertanya, “Sendirian???” Aiiiihhh…memang kepo sekali mah kalau begitu🙂 Dan sekali lagi, tulisan ini mengingatkan saya pada sahabat saya yang di atas tadi….hehehehe….

Di bagian ketiga tentang Jakarta, Indonesia dan Kesehatan Jiwa, ada tulisan berjudul “#Indonesiaunite”. Naaaahh…kalau yang ini juga pernah dibahas sama Pandji Pragiwaksono di buku Nasional.is.me. Tulisan ini bercerita tentang kejadian bom kuningan 2009 lalu. Hashtag twitter ini memang mengguncang pemuda Indonesia saat itu, membakar semangat untuk menunjukkan ke dunia bahwa Indonesia tidak takut terhadap teroris, bahwa Indonesia akan melawan teroris. #Indonesiaunite ini seakan / semacam menjadi sumpah pemuda zaman sekarang🙂

Nah…di bagian terakhir yang ber-genre tentang keluarga, semua tulisannya “nendang” sekali buat saya. Ada cerita tentang “salim” (menyalami orang tua dengan cium tangan), ada tentang injak-injak badan ayah&ibu (dan sama Indra….,saya juga dulu termasuk yang malaaaasss sekali kalau sudah disuruh injak-injak dan…cabut uban…hehehe…), ada tentang bapak yang masih begadang nungguin anaknya pulang (I’ve been there…) dan lain-lain…. Saya jadi agak berkaca-kaca membaca bab terakhir buku ini.

Overall, saya suka buku ini. It’s all so real….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s